Pages

Langit Biru Di Matamu

Langit Gyeongsan kembali biru setelah mendung mencuri warnanya beberapa waktu

Don’t worry if the sky is dark and gray,
The sun will always return another day.

=============================================================================

Matamu menunduk ; ada kesepian yang tak bisa dijelaskandisana ; matamu adalah warna biru paling terang yang pernah kulihat, sayang tanpa harapan, putus asadan penuh dengan bisikan-bisikan yang ingin kau utarakan, namun tak pernahjadi. “Dan itulah mengapa,” katamu, “Itulah mengapa…” Kau tak pernah selesaidengan ucapanmu yang itu; lalu kau berbalik arah dan berbelok, terdengar bunyiceklikan pintu, lembut dan terdengar sangat mudah kau melakukannya.
  
“Akutak mengerti,” balasku padadaun pintu yang telah tertutup. Kemudian terdengar suara nyaring pelat porselainberadu dengan pintu kayu yang berat dan aku pun memudar menjadi hitam.

******
Aku tak mampu mengingat dimana aku bertemudenganmu pertama kali. Aku benar-benar seorang pelupa. Tapi aku pikir mungkin saat itu terjadi di taman, ketikahujan. Ah, jiwa romantisku yang sederhana menggiring kearah sana —aku,berjalan dalam hujan —kau, muncul dengan senyuman, payung dan mata itu, ya mataitu…. Mata biru milikmu.

Akumenyukaimu karena matamu ; aku tak pernah benar-benar tahu sisa dirimu ataumungkin aku berpikir tidak akan ada hal-hal yang lain lagi. Entah mengapa, setiap kau menatapku, duniaku tiba-tiba menyempit menjadi serupa halus dan hanya berwarna biru; seperti tak menyadari warna lainnya ada. Kemudian kau tertawa danberkata, “Kau menatap lagi,” danmemalingkan wajahmu.

Akutidak pernah berfikir untuk menanyakanmu sesuatu —denganmu, hanya ada saat ini,atau selanjutnya, dan terkadang kau ada disana dan terkadang pula kau takdisana, dan ketika kau tak ada aku bermimpi tentangmu dan tenggelam didalamnya.Bagaikan candu namun aku menikmatinya.

Dan itulah mengapa….”

Aku tak pernah menyentuhmu; terkadang akuingin melakukannya; tapi matamu seperti memperingatkanku. Kau terlihat selalubahagia ketika di dekatku, tapi terkadang aku bisa mendengar kebahagiaan itu bergetar,seperti senar biola yang dikencangkan terlalu ketat. Kau seperti memaksa dirimusendiri untuk menyembunyikan sesuatu, yaitu kebahagiaan, dariku. Walaupunsepertinya dengan berbicara itu dapat sedikit membantu, namun aku hanyamenunggu.

Kau tak pernah menawarkan jawaban sama sekali. Aku tak tahukalau sebenarnya aku sangat menginginkannya. 

“Aku rindu padamu,” ucapku sekali, berada beberapa langkah dibelakangmu danmelihat ke bagian belakang kepalamu yang sedikit miring melihat kearah langit.

Aku mendengar kau menghela nafas dan menggelengkan kepalamu, menutup mata danberkata “Kau tak mengerti. Kau selalu berpikir dalam istilah selamanya.”

“Aku tak mengerti”ulangku.

Kau mengulurkan tangan untuk menghentikanku dan berbalik, kemudiantiba-tiba tertawa cekikikan, dan aku dibekukan oleh biru, “Mereka bilangbunga-bunga wisteria sedang bermekaran sekarang,” kau berkata. “Ayo pergi ketaman untuk melihatnya”

“Aku akan menemuimu disana,” kataku.

Kau tersenyum, “Kau tak akan bertemu denganku.” Aku mengikutimu dari belakangdan terdengar kau kembali berkata, “Tidak ada satu orangpun yang bisa.”

******

Kau selalu melihat kearah langit. Kadang kala aku menghabiskan waktu berjam-jamuntuk melakukan hal yang sama, mencoba menemukan apa yang sebenarnya yang kaucari di atas sana. Tapi jika matamu saja tak bisa menemukannya, tentu saja matakutak akan pernah bisa.

Langit juga berada dimatamu. Menurutku itulah segalanya.

Kau selalu menemuiku di taman, dan kau selalu punya sesuatu yang akan kautunjukkan padaku. Kupu-kupu dan bunga, terlihat menarik perhatianmu, pernahsekali kupu-kupu hinggap di tanganmu dan kau berbisik gembira padaku. Tapi akuhanya bisa berpikir bahwa kupu-kupu itu kosong, tak ada apa-apanya biladibandingkan dengan warna biru dimatamu.

Dan kau selalu pergi tanpa mengucapkan apapun, kau berada disana dan kemudian pergi.Kadangkala aku berpikir bahwa kau hanyalah tipuan sinar matahari. Kemudian akumenyadari bahwa aku benar-benar tidak peduli kau sesungguhnya apa. Yang akutahu kau pasti kembali.  Dan kau pastiakan kembali. 

“Langit begitu indah,” kau berkatasekali, duduk disampingku di sebuah bangku taman dengan kepala kautengadahkan.  Sudut kepalamu yang miringmenyembunyikan wajahmu dariku, tapi aku masih bisa melihat sedikit bagian dimatamu, biru terang seperti warna langit. “Takmenginginkan apapun. Hanya saja… Aku berharap orang-orang bisa seperti  itu. Berhati seperti langit.”

“Kau telah seperti itu,” akumenawarkan. Kau tiba-tiba menjadi sedih dan menyembunyikannya dariku. Aku bisamerasa namun aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat.

Kau memiringkan kepalamu kembali dan melihat langit dari balik pohon-pohon yangmeranggas di belakang kami. “Aku tidakberharap,” katamu. “Aku bukanmanusia. Kau, meskipun.”

“Aku tak mengerti,”ujarku. Maafkan aku, maksudku.

Akhirnya, kau tersenyum dan melihat ke arahku. Kau berkata, “Tidak apa-apa.”Hening sesaat, kemudian, “Hey, kaumenatapku lagi,”  dan kau kembalimelihat kearah langit.

******

== Bersambung == 



Gyeongsan, Korea Selatan, Juli 2010
~Inspired by blue sky today~

0 comments:

Post a Comment