Pages

Showing posts with label 'Njajan. Show all posts
Showing posts with label 'Njajan. Show all posts

Pleks Gathering, 29 Oktober 2010




Setelah lama tidak pernah bisa ketemuan, karena kesibukan masing masing, baik di kantor maupun di keluarga, hari Jumat 29 Oktober 2010 kemarin Pleks ketemuan lagi. Sayangnya Nancy berhalangan, jadi hanya kami bertujuh yang bisa berkumpul di Bon Cafe, Gubeng. Inipun membutuhkan niat dan tekat yang kuat supaya bisa terlaksana. Karena tiga orang dari kami sudah mempunyai usaha di luar kantor, sedangkan Yuni selama berhari hari bekerja di Sukorejo dan sore itu bela belain dari Sukorejo ke Gubeng, sedangkan Arini seharian meeting sampai malam...tapi appointment ini tidak boleh ditunda lagi, karenaaa, bakalan susah nyari waktu lagi. Secara kami yang sekantor aja jarang banget bisa makan siang barengan....




Acara gathering kali ini adalah acara traktiran ultah Dewi (13 January 2010) dan farewellnya Lala yang sekarang jadi bakul emas :).

Kami sampai di Bon Cafe hampir bersamaan. Acara pertama, cipika cipiki, cerita ringan ringan tentang perkembangan kantor...mungkin kedengaran membosankan bagi yang sudah tidak ngantor lagi, tapi toh mereka tetap sabar mengikuti..


Acara kedua, pesan makanan, trus makan dengan anteng...nggak banyak suara...ketahuan kalau pada kelaparan...:)

Karena susunan dudukku di pojok, agak susah memotret menu pesanan Pleks yang lain, jadi yang sempat aku photo hanya pesananku saja...


Sup Thom Yam  yang rasanya standard saja...



Dan tenderloin steak (atau sirloin ya? lupaaa...) yang dibalut dengan ham..kalau yang ini rasanya OK :)

Makan selesai, mulai ngobrol rame.....makin malam,suara makin keras, makin banyak ketawanya, sampe kadang sungkan juga dengan pengunjung di sekitar kami, karena ruangan Bon Cafe Gubeng memang tidak terlalu luas.. Bahasan serius, bahasan santai, gojlok menggojlok, seperti biasalah... Yang duduknya di pojok kadang nggak denger apa yang lagi dibahas,jadi musti colek colek sebelahnya, minta diceritain ulang :D


 
 


Tanpa terasa sudah jam 9 malam lebih....HP dan BB dari keluarga sudah mulai bunyi, tanda waktunya balik ke pelukan mereka. Sebelum pulang, foto lagi...yang njepret Veve, anak Dewi yang ikut hadir malam itu.



Makasih Lala dan Dewi, dan sampai ketemu dalam Pleks Gathering berikutnya (yang besar kemungkinan baru tahun depan bisa terlaksana..:D)



Nasi goreng Widodo - nasi goreng paling mahal di hidupku :)


Liburan lebaran tahun ini, keluarga Eny dan mak Kiem dari Semarang main ke Surabaya seperti juga beberapa tahun sebelumnya.

Tujuan utamanya hanya jalan jalan dan makan enak....secara mereka sudah bosen shopping dan malas pergi ke kota kota yang kalau lebaran pasti rame dan macet. Pengalaman mengajarkan, selama liburan Lebaran jangan ke Bali, Jogja, Malang, Puncak atau Bandung...pasti nggak enjoy karena macet dan susah nyari makan..hihih..maklum, keluarga besar kami semua seneng makan, jadi kalau makan nggak bisa nyaman, pasti bete...

Yang bertugas meng-escort mereka kali ini adalah kokoku, Sam dan keluarganya, karena aku harus berlebaran dengan keluarga suami di Probolinggo. Tapi pada hari lebaran ke 2, tanggal 11 September siang kami balik ke Surabaya. Hari itu special karena mak Kiem ultah.

Acara dinner untuk mak Kiem diadakan di rumah makan Kapin daerah Kupang sana, yang deket dengan rumah Sam. Referensinya dari aku...aku bilang pada mereka, di sini ada nasi goreng yang sangat terkenal. Terkenal karena harganya yang luar biasa mahal :D. Mereka setuju.

Nah, mulailah kami pesan.....salah satunya adalah nasi goreng tersebut, yang diberi nama nasi goreng Widodo. Satu porsinya adalah Rp 150,000 - terlalu mahal untuk ukuran nasi goreng kan?




Waktu datang, inilah tampilannya :




Trus apa yang membuat nasi goreng ini special? Konon, di rumah makan Kapin yang asli, yang letaknya di sekitar Tugu Pahlawan, ada pelanggan yang suka sekali makan nasi goreng. Nasi gorengnya Kapin ini, dulu harganya biasa aja, trus karena pelanggan yang bernama pak Widodo ini yang setiap kali pesen minta ditambahin udang, kepiting dan lain lain dalam jumlah banyak, harganya dinaikin. Nah pelanggan yang lain akhirnya ikut ikutan, dan diciptakanlah menu khusus yang bernama nasi goreng Widodo. Denger kabar yang dimaksud dengan pak Widodo ini adalah jendral Widodo, tau bener tau enggak....soale ceritanya cuma dari mulut ke mulut :D

Kalau rasa nasi gorengnya sendiri, menurutku standard Chinese food biasa aja, seperti nasi goreng Hongkong pada umumnya. Berminyak minyak gitu. Oiya, sebenarnya kalau dihitung bener bener, nggak mahal mahal amat sih, karena satu porsi bisa dimakan 5 orang, tentu saja dengan tambahan menu lain. Sayangnya, pecinta nasi goreng Hongkong kecilku malam itu agak demam, cape dan ngantuk, sehingga tidak bernapsu makan...malah rebahan di atas meja resto dan nggak mau maem sama sekali :)


Cinta dan Salsa, sepupunya yang aku ajak ke Surabaya untuk nemani Cinta..keduanya cape dan ngantuk.. :)


Selain nasi goreng Widodo ini, makanan lainnya lumayan enak, terutama burung dara gorengnya yang empuk dan gendut...dan yang penting koh Nan, iparku dan semua yang ikut dinner suka dengan semua menunya :)



Joshua, Jeremy, Michael dan mak Kiem

Yang tersisa dari jalan jalan ke Jogja dan Semarang

Ini cerita yang tercecer dari perjalanan liburan kami ke Jogja dan Semarang kapan hari :)

Trip kali ini kami tidak banyak mengunjungi tempat makan yang istimewa, karena waktunya terbatas banget dan kami mempertimbangkan menu makanan Cinta yang masih belum suka makanan aneh aneh, kecuali McD, AW, dan masakan rumahan :) 

Yuk, mulai dari Jogja dulu.

Ini adalah Gudeg Permata, gudeg yang menurutku enak banget. Bukanya malam hari saja. Di emperan toko yang sudah tutup gitu. Trus yang makan juga banyak, tapi kali ini kami nggak perlu ngantri terlalu lama.






Karena Cinta sudah ngantuk dan tidur di mobil, kami beli gudegnya dibungkus aja trus dimakannya di hotel :)


Harganya nggak mahal, untuk seporsi nasi gudeg komplit (nasi dengan ayam 1 potong, telur 1 butir, sambel goreng krecek, tahu tempe bacem, dan lain lain hanya sekitar RP 18,000). Yang kami suka, gudegnya nggak terlalu manis.

Kami kenal gudeg ini waktu dulu rutin katekisasi di gereja Ngupasan Jogja menjelang pernikahan. Yang mengenalkan Wisnu,sahabat suamiku yang sering ke Jogja. Tapi karena sudah lama nggak ke Jogja, kami lupa tempatnya. Yang diingat suamiku hanya di dekat Malioboro. Jadilah malam itu kami muter muter ke daerah sekitar kantor pos besar, tapi nggak ketemu juga. Karena itu malam terakhir kami di Jogja dan besoknya sudah ke Semarang, mau nggak mau kudu ketemu, akhirnya suamiku nekad telpon Wisnu di Jakarta yang pasti sudah tidur malam itu :). Akhirnya ketemu juga....seneng bangetttt...

Nah, seingat kami pula, waktu itu porsinya kecil. Kami dulu makan di tempat, pakai piring gitu. Suamiku waktu itu sampai nambah. Kami pikir porsinya kali ini juga masih kecil. Pesanlah kami seorang 2 bungkus. Eh, ternyata setelah dibuka, banyaaaaaaaaaak banget..hiks...dengan berat hati akhirnya ada yang terbuang sia sia. **Maafkan kami yang menyia nyiakan berkat dariMu Tuhan**

Yang berikutnya adalah empek empek bu Kamto. Konon katanya ini empek empek paling enak di Jogja :). Aku belinya yang di daerah Malioboro, pake naik becak, soalnya suamiku mau langsung ke Taman Pintar dengan Cinta. Sementara aku masih perlu mampir Periplus dulu mau ngurus buku yang salah diskon.


Memang aku niat beli empek empek bu Kamto ini buat oleh oleh Mamie dan keluarga cicikku, Eny yang suka sama empek empek dan nggak mau dioleh olehin gudeg, soalnya habis dapat oleh oleh dari mertuanya :)



Kalau rasanya, memang enak sih, deserve dengan harganya yang nggak murah. Tapi agak agak terlalu amis, mungkin karena pakainya ikan asli, nggak banyak campuran tepungnya ya.... Aku hanya suka lenjernya. Sedang Mamie, Eny dan Michael suka kapal selamnya.

Trus, ini yang sebenarnya bukan menu khas Jawa Tengah....yaitu sate ayam. Waktu habis dari Taman Pintar, kami terjebak macet karena ada karnaval 17 Agustusan. Nggak tahan mencium baunya yang sedep banget, dan aku lihat kok daging ayamnya bersih...aku cobain pesen. Satenya kecil kecil, tapi rasanya lumayan. Trus iseng iseng aku ngobrol sama si mbok yang jualan...eh, ternyata dia jawab dengan logat yang sangat familiar buat aku....ternyata dia orang Madura yang mengadu nasib jualan sate Madura di Jogja :D







Sorenya kami jalan ke Semarang. Sampai Semarang sudah malem banget tapi perut laper. Nyari nyari mie Jowo, akhirnya dapat di Stadion, deket gereja Pringgading. Tapi lupa motret mienya. Yang pasti mienya jauh lebih enak dari mie Jowonya pak Pele. Mienya pakai kekian abal abal, yang menurutku khas :)


brandingnya Yamaha Mataram Sakti...hihih....tokonya sapa tuuuuhh....kayaknya kenal nih...


Nah, besoknya setelah di Semarang, kami sempatin makan tahu Pong jalan Gajah Mada. Ini menu wajib kalo aku pulang ke Semarang :). Isinya bisa customized, pilihannya tahu Pong (dipotong kotak kotak), gimbal udang, telur rebus digoreng dan tahu emplek (tahu digoreng utuh trus dipotong potong). Harga per porsi antara Rp 15,000 - Rp 20,000. Biasanya pakai acar lobak, tapi kali ini mungkin habis, jadi hanya pakai acar timun biasa.




Nah, karena di sebelah tahu Pong ini ada orang jualan mie Titee cabang Grajen, aku pesen juga. Tapi aku pesennya bihun Titee. Rasanya? Menurutku enak banget....soale aku seneng...hehehe.. Cuma beda dengan jaman aku masih tinggal di Semarang dulu, sekarang titeenya (kaki babi) dipotong kecil kecil.



Yang terakhir adalah sate kambing (seberang) gereja Blenduk.


Gereja Blenduk yang legendaris..

 
Nama warungnya adalah Sate Kambing 29. Tempatnya sudah kuno banget, sejak aku kecil sudah ada. Dagingnya empuk banget... 1 porsi berisi 5 tusuk, sudah cukup buat sekali makan :)





Bumbunya hanya kecap manis dan merica, sehingga rasa satenya nggak terkontaminasi dengan rasa kacang. Kalau di Surabaya, rata rata sate kambing pake bumbu kacang,kecuali kita request sebelumnya.



Trus karena pengen kuah, aku pesan gule...ternyata gulenya kurang OK..terlalu encer..



Sayang waktu kami di Semarang nggak lama, jadi nggak sempat melepas rindu dengan makanan lain, seperti soto pak Keri, soto Bangkong, sate pak Kempleng, pecel yang setiap hari lewat depan rumah Mamie, Swike, sup  hisit dan bakcangnya pasar gang Baru...aaahhh...pokoknya banyak yang masih belum kebeli. Mungkin Desember kalau libur panjang kami bisa pulang ke Semarang lagi *keep my fingers crossed*.

Oleh oleh Bakpao Telo dari Naomi & Ananta





Sabtu lalu kami kedatangan tamu,Ananta, putera ibu Yustina Pranowo, dan calon istrinya Naomi. Mereka baru pulang dari Malang dalam rangka liburan dan menyempatkan diri mengunjungi kami.

Naomi dan Ananta (yang dipanggil Didik) membawa oleh oleh bakpao telo. Di Jawa Timur, bakpao yang aslinya dari Lawang (dekat Malang) ini cukup terkenal. Terbuat dari tepung ketela dengan isian coklat, kacang hijau dan ragout. Bakpao telo ini memiliki warna warni yang tidak biasa untuk bakpao, yakni ungu, hijau dan kuning. Cinta yang tidak suka bakpao aja sampai tertarik untuk memakannya karena warnanya yang unik itu.




Rasa bakpaonya sendiri menurut aku, enak....kulitnya lembut dan legit, cocok untuk bakpao dengan isian manis. Tapi kalau isiannya gurih agak kurang cocok. Mungkin karena tepung ketela sendiri sudah manis. Dan cukup tahan lama, dua hari di luar kulkas (karena suamiku lupa nyimpan) masih tetap lembut dan tidak basi.

Bakpao telo dijual juga di beberapa supermarket di Surabaya, tapi asli, baru sekali ini aku makan, itu juga karena oleh oleh..hehehe... Kemarin oleh Naomi aku ditawarin juga mie kering dari bahan telo yang berwarna warni juga, tapi aku nggak 'tega' mau makannya, bukan apa apa, buat aku mie yang berwarna warni kok rasanya aneh...pernah makan mie hijau dari bayam dan sayur sayuran, tapi aku nggak suka biar kata menyehatkan badan..... :)



Naomi & Cinta

Naomi & Didik, terimakasih oleh oleh bakpaonya, kalau bukan kalian bawain, sampai sekarang kami sekeluarga masih belum pernah makan bakpao telo... :)

Lunch at Daun Lada


Tadi makan siang diajak makan keluar oleh Mr. Phang. Beliau janjian juga sama Lily, temen sekantor yang sudah ambil early retirement dan suaminya. Tempat yang dipilih adalah ‘Daun Lada’ jalan Raya Kupang Indah 5 Surabaya.






Kesan pertama begitu masuk resto adalah ‘AMIS !!’. Karena ikan mentah dipajang di ruangan tertutup dan ber AC. Kami nyari tempat yang paling jauh dari display ikan.

Tempatnya lumayan cozy, tapi meja dan kursinya terlalu rapat satu sama lain. Kalau sedang ramai pasti tidak nyaman.

Menu yang kami pilih, atas suggestion Lily adalah :

Ikan Papakulu bakar asap (Rp 23,000/ekor)
Udang Windu petai balado (Rp 32,000 isi 6 ekor udang ukuran sedang dan sekitar 7 mata petai yang kurus kurus dan gepeng)
Gurame pesmol (Rp 26,000/ekor)
Orak arik jagung (Rp 8,500/porsi)
Baby buncis goreng ebi (Rp 8,500)

Sebelum masakan siap, kami jalan jalan dulu lihat display ikan, dan aku yang memang sengaja bawa kamera jadi gatal motretin jenis jenis ikan yang ada.


Ikan mata sebelah. Yang sebelah ini tidak ada matanya....


Yang sebelah sini baru ada...


Ini giginya.......rupanya di laut nggak ada bekel... :D



Ikan Papakulu....wajahnya ramah sekali, entah apa yang dibayangkannya waktu tertangkap jaring nelayan. Dia pikir diajak piknik kali yeee ? 

 


Ikan Pari, diprotes Lily soalnya kecil kecil.. :D


Ikan jaket atau sukang


senyumnya ramah juga..


Ngobrol sana sini, tanya ini itu, kabar kabari tentang teman yang masih stay dan say goodbye di kantor…sampai makanan datang.

Yang datang pertama adalah ikan Papakulu bakar asap. Baunya wangi khas ikan asap.


Yang unik, kulit ikan ini keras sekali sehingga sebelum diambil dagingnya, kulit harus disingkap dulu….trus dibuang, nggak bisa dimakan :). Rasanya, kata suami Lily mirip ayam…menurutku sih, enggak…cuma lembut aja. Not bad.


kulit dan daging ikan papakulu bakar asap


Udang datang kemudian….agak kecewa karena ternyata petainya, yang diharapkan besar dan segar, seperti photo di buku menunya, ternyata kecil kecil gepeng dan hanya sedikit. Tapi rasanya OK untuk seleraku. Manis manis pedas.




Orak arik jagung…isinya jagung manis pipilan dan telur, rasanya cenderung manis, tapi kalau aku sih seneng. Baby buncisnya juga OK.




Yang aku paling suka adalah Gurami Pesmolnya. Walaupun kata Mr. Phang terlalu reddish. Menurutku kuahnya segar, walaupun tomatnya sudah agak agak dying, alias nyaris busuk.. Biasanya di Daun Lada, yang dibikin pesmol adalah ikan Nila, tapi karena Mr. Phang suka gurami, kami insist minta Gurami Pesmol. Ikannya digoreng kering baru disiram kuah, jadi crispy tapi basah...**bingung ya? **




Porsinya kecil kecil, tapi rasanya dari skala 0 – 100, dapat 75 lah. Harganya juga lumayan murah.