Kemarin ada acara gathering anggota PERPIKA di Busan. PERPIKA kependekan dari Persatuan Pelajar Indonesia di Korea Selatan, yaitu organisasi perkumpulan para mahasiswa/pelajar dari Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Korea Selatan. PERPIKA ini dibagi menjadi 3 berdasarkan wilayahnya, yaitu Perpika 1, 2 dan 3. Dan kemaren acaranya diadakan di Perpika 3, daerah Busan dan sekitarnya, tepatnya di PNU (Pukyong National University). Jam satu lewat lima belas menit, kami berangkat dari rumah ke stasiun Gyeongsan. Karena berempat, kami memutuskan untuk naik taksi saja, tidak naik bis karena jatuhnya bisa lebih murah. Tiket telah dipesan sebelumnya, jadi sesampainya di stasiun, kami tinggal menukarkan print out pemesanan dengan tiket aslinya, seharga 6.500 won masing-masing (sekitar Rp 55.000,00 jika di kurs kan ke rupiah... heeeyyyy, ayo berhenti mengkonversikan won ke rupiah jika tidak mau capek dan sakit hati!!). Setelah menunggu beberapa menit, kereta ke Busan pun datang, kami naik dan mencari tempat duduk masing-masing.
( Gyeongsan Yok)
Di sepanjang perjalanan, saya amati di kiri kanan isinya kebanyakan bukit... bukit dan bukit. Sama hal nya perjalanan waktu dari Incheon ke Gyeongsan sebulan yang lalu, bukit dan perbukitan banyak menghiasi di kanan kiri. Memang rata-rata wilayah Korea, banyak terdiri dari perbukitan dan sedikit tanahnya yang datar. Oleh karena itu harga tanah dan perumahan cukup mahal disini.
(Rata-rata wilayah Korea terdiri dari bukit dan perbukitan)
Perjalanan kira-kira 1 jam 15 menit kami sampai di Busan Yok (Stasiun Busan). Sampai di Busan, kami makan siang dulu di Lotteria (semacam KFC kalau di Indonesia), dengan menu burger ojingo (burger isi cumi goreng, dan rasanya sangat enak). Tidak bisa memesan makanan yang sembarangan, terutaman ayam karena tidak diperbolehkan untuk kami. Karena acara gathering-nya dimulai pukul 20.00, maka kami akan jalan-jalan dulu keliling Busan. Setelah melihat-lihat Busan trourism map, tempat tujuan adalah ke pantai Haeundae. Busan memang terkenal dengan wilayah pantai yang indah dan pelabuhan yang ramai.
( Di depan Busan Station )
Naik subway dari Busan Station ke Dongbaek subway station, kira-kira satu jam dengan melewati sekitar 20an subway station. Ongkos subway cuma 1.300 won saja (silahkan kalikan dengan Rp 8,00 kalau mau tahu berapa rupiah nya...^^). Cukup murah untuk ukuran kereta yang lebih baik daripada kereta ekspress di Indonesia (kereta apa coba yang lebih baik daripada kereta ekspress di Jakarta...?? Hehe... seandainya di Indonesia ada subway... Kapan ya??). Sampai di Dongbaek, jalan kaki ke Haeundae sekitar 20 menit. Dan sampai lah kita di kawasan pantai yang cukup indah tersebut. Bedanya dengan pantai di Indonesia, pantai disini dikelilingi gedung-gedung tinggi sedangkan di Indonesia lebih terlihat alami. Berjalan-jalan mengelilingi Dongbaek park dan Haeundae beach sampai sore, cukup puas. Dan masuk ke tamannya pun gratis. Memang banyak objek-objek wisata di Korea yang gratis untuk masuk ke dalamnya, termasuk Haeundae dan Dongbaek park ini. Di sini juga ada gedung APEC Nurimaru (APEC house) di tepi pantai Haeundae. Bentuknya seperti dome, lucu dan cukup artistik. Tapi sayang kami tidak bisa masuk kesana, ditutup karena sudah sore.
( Haeundae Beach & Dongbaek Park)
Hari sudah beranjak sore kami pun meninggalkan Haeundae, naik taksi ke Pukyong. Perut terasa lapar, waktu makan malam tiba. Kami makan di restoran onigiri di dekat Pukyong National University, 3.700 won untuk onigiri dan semangkuk udong (mie kuah). Setelah selesai, kami ke tempat acara gathering. Disana sudah ramai anak-anak PERPIKA dari Wilayah 1 (Seoul), 2 ( Daejeon) dan 3 (Busan), mungkin ada sekitar 80an orang lebih. Acara pun dimulai, dari acara intinya yaitu perkenalan, makan-makan & minum-minum (makanan kecil karena panitia tidak menyediakan makanan besar), ramah-tamah. Cukup ramai, karena ternyata anak-anak PERPIKA banyak yang "lucu-lucu". Sekalian waktu itu kami mengumpulkan berkas lapor diri kami untuk diserahkan ke Kedubes Indonesia di Seoul, kami titipkan pada anggota PERPIKA yang dari Seoul.Setelah selesai acara inti, kemudian acara bebas, kami akan diajak jalan-jalan ke Gwangali beach. Sebelumnya, cari makanan terlebih dahulu di sekitar kampus PNU. Sebenarnya ingin sekali makan odeng, tapi sayang tidak kami temukan satupun penjual odeng yang masih buka karena sudah larut malam. Hiks... hiks... bayangan odeng dan kuah panasnya yang lezat, jadi lenyap seketika. Akhirnya kami membeli waffle. Dengan uang cuma 990 won saja, sudah dapet waffle isi es krim yang "segambreng " . Wuihhh, sedaaappp... Seandainya warung waffle ini ada di dekat kampus, pasti program dietnya temen-temen serumah bakalan gagal total... hahaha... *ketawa setan. Setelah selesai kuliner malam, kami berkumpul untuk menuju ke Gwangali. Di pantai Gwangali katanya ada jembatan di atas laut yang sangat bagus kalau malam hari karena ada lampu hiasnya. Pantainya juga cukup bagus. Tapi biasanya kalau sudah larut malam banget, lampunya dimatikan. Makanya kami berspekulasi kesana, berharap lampunya masih nyala karena malam itu adalah malam minggu. Dengan naik taksi, kami beramai-ramai kesana. Mungkin ada sekitar 15an orang lebih. Dan untunglah lampu jembatannya masih nyala. Terlihat sangat bagus di malam hari. Kami berjalan-jalan di pesisir pantai, menikmati pemandangan lampu jembatan dan lampu-lampu gedung di sekitarnya. Udara sangat dingin di malam itu. Walaupun sudah memakai jaket tebel kayak lontong, tapi tetap saja dingin menusuk tulang.
( Gwangali bridge, di belakang kami. Look so amazing )
(King Viking, si kora-kora raksasa)
-Tamat-








0 comments:
Post a Comment