Pages

Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

Japan Day 4 : Nekat

Di Jepang dalam kondisi habis gempa, terjadi pemadaman listrik, ada perubahan jadwal kereta api, masih ada gempa susulan, tidak bisa berbahasa Jepang dan membaca karakter-nya ditambah dengan kebocoran Nuclear Plant di Fukushima, plus sendirian pula adalah termasuk sedikit perbuatan nekat. Orang-orang bilang agar saya jangan pergi kemana-mana, lebih baik tetap stay di hotel. Bahkan ada yang menyarankan segera menjauhi kota Tokyo dan kembali ke Narita keesokan harinya. Tapi bagi saya, berdiam diri di hotel seharian sedangkan telah berada di suatu tempat yang telah lama diimpikan untuk dikunjungi, bukanlah hal yang menyenangkan. Alasan lainnya, nyari oleh-oleh buat orang rumah. Maka saya pun memutuskan untuk jalan keluar, masih tetap berbekal peta subway Tokyo dan Tokyo handy guide. Mungkin saya tidak bisa kemana-mana di Tokyo tanpa kedua benda tersebut.

Karena malam sebelumnya, saya sudah berkunjung ke Shinjuku, Shibuya, Harajuku, Tokyo Tower dan sekitarnya, maka kali ini saya memutuskan untuk mengunjungi tempat yang lainnya : yaitu Asakusa dan Ueno. Rencana juga ingin melihat Rainbow Bridge di Odaiba, tapi menurut keterangan beberapa teman, daerah tersebut belum pulih akibat terkena tsunami. Di Jepang pun kebiasaan malas beranjak pagi-pagi ternyata masih kebawa juga. Siyal! Saya baru keluar dari hotel saat jam makan siang. Bahkan jatah sarapan di hotel pun tidak pernah saya ambil karena saking malasnya bergerak pagi-pagi.

Dari Otsuka menuju daerah Ueno, turun di stasiun Uguisudani dan langsung mencari Kaneiji Temple. Ketika saya terlihat sedang mencari-cari arah, tiba-tiba seorang bapak mendekati saya dan bertanya saya mau kemana dalam bahasa Inggris. Saya bilang ingin ke Kaneiji Temple, dan beliau pun dengan senang hati menunjukkan arahnya. Setelah saya susuri menurut petunjuk si bapak-bapak tadi, ternyata letaknya lumayan jauh. Sudah berjalan lumayan lama tapi tak kunjung menemukannya. Saya tiba di sebuah perkampungan yang di dalamnya banyak terdapat bangunan-bangunan kuno, entah itu temple atau rumah tradisional Jepang, saya kurang tahu. Akhirnya saya bertanya sama bapak-bapak yang saya jumpai di sekitar situ dan menunjukkan dimana letak Kaneiji temple. Ah, found it finally... Kaneiji temple ternyata ukurannya kecil, dan kompleknya pun tidak terlalu luas. Ketika saya masuk, cuma ada 2 orang yang nampaknya akan memindahkan sesuatu dengan menggunakan mobil. Sayangnya pengunjung tidak diijinkan masuk ke dalam bangunan temple-nya, hanya boleh melihat dari batas yang telah ditentukan. Setelah melihat-lihat sebantar, mengambil beberapa foto dan meminta tolong seseorang yang lewat untuk motoin, kemudian saya meninggalkan tempat tersebut. Di dekat Kaneiji Temple, terdapat Ueno Park dan beberapa Cemetery. Saya hanya melihat-lihat dari luarnya saja.

 

Setelah puas berkeliling-keliling Ueno, lalu saya kembali ke Uguisudani Station dan menuju ke Ueno Station , transfer Ginza Line ke Asakusa. Tujuan saya yaitu Namikase, pusat belanja oleh-oleh di Jepang. Sesampainya di Stasiun Asakusa, karena bingung letaknya Namikase ada di sebelah mana, akhirnya nanya ke orang. Ternyata gak terlalu jauh dari Stasiun Asakusa, cuma jalan kaki sekitar 5 menitan. Toko-toko souvenir di Namikase gak semuanya buka pas saya datang. Hanya dua deret saja yang terlihat buka penuh, sebagian besar menjual souvenir traditional khas Jepang. Tidak banyak orang yang datang juga kala itu. Di dekat Namikase, ada sebuah kuil yang lumayan besar. Beberapa orang terlihat datang mengunjungi kuil tersebut untuk berdoa, dan beberapa lainnya yaitu para turis hanya melihat-lihat dari luar kuil, termasuk saya. Semakin sore, udara semakin dingin dan menusuk sekali karena angin yang kencang. Saya bergegas melihat-lihat dan membeli beberapa buah souvenir dari beberapa toko. Tatkala sedang memilih souvenir, tiba-tiba si Eka nelpon, menurut dia Professor menyuruh saya menginap di bandara malam ini. Karena diperkirakan besok pagi lalu lintas sangat padat, dan khawatir jikalau saya telat tiba di bandara. Akhirnya saya putuskan untuk segera kembali ke hotel agar tidak cemas. Sebenarnya masih ingin melanjutkan exploring nya, tapi ternyata udara semakin dingin dan saya hanya memakai jaket tipis. Gak kuat lama-lama berada di luar, saya sudah menggigil... Sekembalinya di hotel, ternyata terjadi gempa susulan selama beberapa saat. Kamar yang saya tempati bergoyang-goyang, hanger yang digantung di dinding pun bergerak-gerak... Saya  gak ke bandara malam itu karena sangat dingin sekali, saya pasti gak akan tahan berada disana...

Malam itu saya cuma bisa berdoa, semoga tidak terjadi apa-apa sampai sepulangnya saya keesokan harinya. Dan ada yang berpesan untuk saya agar kembali ke Korea dengan selamat dan bisa menulis blog kembali... Terima kasih banyak untuk semua orang yang telah peduli dengan saya kala itu : Astri yang telah menelepon saya walaupun gak diangkat, Eka yang gak capek-capeknya nelpon dan sms, Professor yang sangat peduli dengan saya dan menyesal telah mengijinkan saya berangkat ke Jepang, Ibu, Edit & Dongkyun yang menanyakan keadaan saya disana, teman-teman di Facebook dan lain-lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu...





Wanita : Makhluk Multi Tasking

Ini ceritanya lagi desperade : nulis paper gak maju-maju alias gak ada ide alias otak lagi buntu... Ya udah dech, bikin postingan di blog aja, siapa tahu pikiran jadi terbuka, dan ide menulis paper pun mengalir... *ngarep*

Eh.. eh... hari ini kamu udah nulis postingan blog sebanyak 2 biji lhoh Dham! Salah satunya, panjang bener lagi isinya... *angel side berusaha ngingetin*
Gak papa sih! Blog khan emang ajang pelarian merangkap sebagai hiburan di kala mumet... *halah, aneh bener hiburannya*
Paling enggak khan target untuk hari ini udah terpenuhi : nyelesein format-an paper buat JNO... dan udah di send ke Prof.... *dark side tetep ngeyel*

Gak tau kenapa ini tiba-tiba terlintas pengen nulis kemampuan multi-tasking seorang wanita... (saya lebih prefer menyebut wanita daripada perempuan, jangan tanya kenapa! *retoris*). Gara-garanya semalem, saya masak... Lhoh, emang apa hubungannya? Gak pernah masak ya Dham? Baru pertama kali? Apa masak sambil tidur? kkkkk....
Enggak sih... Sebenarnya juga hal yang kayak diuraikan berikut ini bukan cuma baru sekali, tapi hampir setiap waktu...

Ceritanya, menu masakannya adalah kentang jamur lada hitam dan balado telur mata sapi. Kentangnya harus goreng terlebih dahulu dan telornya, pasti lah, harus diceplok terlebih dahulu juga (namanya juga balado telor mata sapi, itu lhoh telor ceplok yang dipedesin). Alhasil, biar cepet, dua kompor saya nyalain, yang satu goreng telor dan satunya goreng kentang. Terus kemudian sembari nunggu mateng, ditinggal ngupas-ngupas kentang lagi, motong-motongin sekalian jamurnya, sama nyiapin bumbu-bumbunya : ngupas, motong-motong, nyincang, mblender. Setelah semua digoreng, tinggal dimasak lagi, dan dibumbuin. Alhasil satu jam selesai semuanya, 13 buah balado telor mata sapi sama sewajan penuh kentang jamur lada hitam. Tanpa ada yang gosong... Fiuhhh... Dan gak sembarangan, maksudnya gak dipotong asal potong tapi potongan rapi... Soalnya menurut saya, dalam hal masak memasak, penampilan juga merupakan faktor yang harus diperhatikan selain cita rasa. Biar sesibuk apapun, saya gak mau kalau masak asal-asalan. Memasak juga harus dilakukan dengan sepenuh hati, dan dengan mengerjakannya dengan baik adalah salah satu bentuk hati yang saya berikan... *halah*

Kalau di rumah dulu saya suka melihat ibu saya mengerjakan banyak hal dalam satu waktu, misalnya memasak, sembari bersih-bersih, sembari menyetrika, dan lain-lain. Ternyata bisa. Saya kadang suka heran kala itu. Dan tak jarang saya sering diomelin dan dikasi wejangan kalau ngerjain sesuatu lelet banget dan gak bisa nyambi. Katanya jadi wanita itu harus bisa ngerjain banyak hal dalam satu waktu, harus bisa nyambi-nyambi istilah Jawanya. Lha iya, peran wanita itu gak gampang : harus bisa jadi istri, ibu, diri sendiri dan pekerja (kalau emang terjun dalam dunia kerja). Kalau gak pinter-pinter, bisa jadi kethetheran, suami dan anak-anak jadi gak keurus.

Dan ternyata emang bener, wanita itu adalah makhluk multi tasking. Contohnya adalah, saya sendiri *halah*. Saya kalau belajar hampir selalu sambil dengerin musik, dulu gak bisa kalo gak ada musik. Udah gitu kadang masih sambil angkat telpon berlama-lama, atau sambil chatting kalau ada hal yang penting atau sambil makan. Ajaibnya, semua masuk di otak... 

Kok bisa ya? Emang apa yang khusus dari diri seorang wanita sedemikian sehingga bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu begitu?

Berbeda dengan pria, wanita dianugerahi otak yang mampu bekerja secara simultan antara belahan otak kanan dan kirinya. Wanita itu punya sekelompok syaraf yang menghubungkan antara otak kanan dan kiri, bahasa kerennya Corpus Callosum. Pada pria ada juga, tapi ukurannya 25% lebih kecil. Jadinya karena adanya "penyambung" tadi itu, wanita lebih cepet dalam hal menghubungkan antara pikiran dan perasaan. Bahasa gampangnya, lewat jalan tol.
Makanya, wanita bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu, mampu berfikir, mengingat,  berbicara, mendengar dan merencanakan sesuatu bersamaan, karena kuatnya koneksi bagian-bagian otak yang berlainan tadi...CMIIW...

Sebaliknya, otak pria lebih terspesialisasi, hanya bisa mengandalkan satu bagian otaknya saja. Maka pria lebih cenderung mengerjakan sesuatu satu demi satu, tidak bersamaan.

Hah... Jadi jangan heran (bagi para pria-pria khususnya) jikalau menjumpai seorang wanita yang sedang menyetir, sambil nelpon, sambil make-up-an atau sambil apa lagi gitu... Karena emang wanita bisa melakukannya... *yang ini berbahaya tapinya*

Termasuk saya bikin postingan-postingan di blog ini, lagi sibuk-sibuknya masih sempet aja bikin postingan blog, mana panjang-panjang lagi.... kkkkk...
Mana sambil chatting juga lagi...:D
Khan multi tasking... :p

Kecanduan Kerokan

Hari Minggu, niat hati ingin bergegas pergi ke lab ~kerjaan menumpuk telah menanti~. Tapi, dasar pikiran dan badan suka gak sinkron (pikiran terlalu bersemangat, tapi badannya gak bisa diajak kompromi) : kepala pusing banget, lemes, seperti gak punya energi buat bangun. Alhasil, gak jadi ke lab sampai malam menjelang. Bangun tidur cuma buat sholat dan makan doang... Males makan juga sebenarnya tapi kalau gak dipaksain, takut malah gak sembuh-sembuh... Kemaren anginnya kenceng banget, dan acara Homecoming Day-nya diadain di luar. Terus malemnya masih jalan ke depan, norebangan sama anak-anak. Jadinya, mungkin ini penyebabnya, saya jadi masuk angin...*nyalahin angin*

Karena hari Minggu adalah jadwal ngaji anak-anak cewek Gyeongsan, sekitar jam 7, Mbak Yuli dateng ke rumah. Tahu saya lagi kurang sehat, terus di kerokin sama dia. Abis itu dipijitin, mulai dari punggung, tangan, leher sampai kepala. Inget pas jaman masih ngumpul bareng di rumah itu, dulu Mbak Yuli kalau ke kamar saya suka mijitin. Begitu melihat saya pulang langsung ndelosor di kasur dengan wajah capek, Mbak Yuli nya ngomong gini "Capek ya Neng?", tanpa babibu langsung mijitin kaki saya... Woowww... miss that moment...

Tak berapa lama kemudian, Mbak Laeli, songsengnim ngaji kami datang. Melihat saya masih terbungkus selimut di kasur, langsung memijit saya juga. Tapi kali ini pijitannya beda, yaitu pijit refleksi, berhubung si Mbak Laeli-nya emang bisa mijit refleksi. Seluruh jari kaki dipijat sampai saya mringis-mringis, sakit banget ternyata ya. This is my first time. Iya, katanya kalau badannya sedang sehat, gak bakalan sakit. Kalau dipijit sakit, tandanya emang badannya lagi gak sehat. Gak dech ya, yang bikin saya heran, padahal cuma dipencet-pencet biasa gitu tapi ternyata sakitnya bisa luar biasa... Saya sampai sempet teriak...

Giliran si Eka nglanjutin mijit kaki saya, Mbak Laeli nya ngicip masakakannya Eka dulu... Jago juga nih anak ternyata. Abis itu, kita ngaji dulu...

Selesai ngaji, acara kerok-mengeroknya masih berlanjut. Kali ini Mbak Fie yang turun tangan. Seantero Gyeongsan, mungkin Mbak Fie yang kerokannya paling manteb, soalnya dia orang Jawa aseli Jogja, biasa dengan kerok-mengerok. Jangan tanya rasanya seperti apa, dijamin mringis, tapi justru itu enaknya kerokan menurut saya. Alhasil, seluruh badan saya merah semua, dan tanggung-tanggung, Mbak Fie ngerokinnya sampai ujung lengan... Woohhh... Padahal tepat seminggu yang lalu sehari sebelum berangkat ke Jepang, saya juga minta dikerokin. Dan setelah saya hitung-hitung, akhir-akhir ini mungkin tiap seminggu sekali saya kerokan... Semalem pun Mbak Fie sampai bilang, "Wah, Dham, kamu kalau nyari suami harus yang bisa ngerokin nih kayaknya!". Saya cuma tertawa...

Dan malam itupun, semua jadi sibuk karena saya... Serasa pulang ke rumah... Dulu pas masih di rumah, atau kalau sedang pulang ke rumah, kalau saya sedang sakit, gak enak badan atau masuk angin, langsung dikerokin sama ibu atau nenek saya. Abis itu dipijitin dan seluruh badan diusap pake minyak kayu putih, terus diselimutin rapat. Plus dibikinin teh anget sama minta disuapin makan kalau manjanya lagi kumat. Ajaib. Gak perlu ke dokter atau minum obat pasti sembuh *saya emang gak suka pergi ke dokter*

Saya jadi penasaran, kok bisa ya kerokan nyembuhin penyakit masuk angin atau gak enak badan?  Biar gak penasaran lagi, akhirnya dibela-belain googling di tengah-tengah sedang mem-format paper. Dan dari hasil googling :

"Tidak ada istilah masuk angin dalam ilmu kedokteran," kata dr Kartono Mohamad, mantan ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Pengendara motor yang tidak menggunakan jaket, penjaga siskamling atau orang yang kehujanan sering merasa dirinya masuk angin dengan gejala perut kembung, badan pegal. Sebenarnya adakah penyakit masuk angin itu?
Dunia kedokteran tak pernah mengenal istilah "masuk angin". Gejala-gejala yang ditimbulkan seperti perut kembung, nyeri otot, pusing, sakit tenggorokan, bersin-bersin, sampai batuk dan pilek merupakan gejala-gejala dari penyakit lain. Penyakit yang diderita bisa bermacam-macam tergantung gejalanya.

Perut kembung secara kedokteran didiagnosa sebagai gejala maag atau adanya ganggguan lambung dan gangguan pencernaan lainnya.

Sedangkan pusing, sakit tenggorokan, bersin, batuk dan pilek bisa merupakan gejala flu. Badan pegal atau nyeri otot bisa disebabkan karena orang tersebut terlalu capek dan kurang istirahat.
 
Woohhh... Bahkan istilah masuk angin aja ternyata gak ada dalam ilmu kedokteran... Jadi saya sakit apa dong? Ummm... dugaan kuat mungkin penyakit maag yang saya derita sejak masih kecil kambuh soalnya perut terasa kembung. Atau mungkin gangguan lambung atau pencernaan lainnya. Entahlah... Bisa jadi terkena flu, terlalu capek atau kurang istirahat...

Lanjut... Yang ini berhubungan dengan kerokan :

Kebanyakan orang mendiagnosa sendiri bahwa dirinya masuk angin. Ketika masuk angin mereka memilih pengobatan dengan cara 'kerokan'. Selain lebih mudah, kerokan dianggap lebih manjur daripada harus mengonsumsi obat-obatan.

dr Kartono menjelaskan bahwa sebenarnya kerokan hanyalah mengalihkan rasa sakit yang diderita pasien, tetapi tidak bisa mengobati penyakit itu. Kerokan dapat menyebabkan aliran darah ke kulit lebih lancar, sehingga badan akan merasa lebih segar.

"Kerokan prinsipnya sama dengan bekam," kata dr Yuni. Kerokan dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang sudah tidak berfungsi dengan baik atau yang banyak mengandung CO2 akibat polusi. Sehingga dengan teknik kerokan, dapat mengeluarkan uap-uap polusi dalam darah dan orang akan merasa lebih enakan.
Sekarang saya mengerti, kerokan sebenarnya cuma mengalihkan rasa sakit. Ya iya, soalnya kerokan sendiri sakitnya minta ampun sebenarnya... Tapi memang habis kerokan, badan rasanya lebih seger... Terbukti, sehabis kerokan semalem, saya jadi punya daya untuk beranjak dari tempat tidur, bahkan sempat  pergi belanja dan memasak segala...

Kerokan efek terapinya lebih pada kebiasaan (habituasi) dan besifat sugesty belaka. Habituasi disini analog dengan perokok, orang yang biasa merokok yang mengaku tidak bisa berfikir tanpa merokok. Sedangkan sugesty seringkali memang cukup manjur sekalipun tidak rasional secara mekanisme therapy, karena dengan sugesty seseorang akan termotivasi untuk sembuh dari keluhan sakitnya.Sudah pasti kerokan akan merusak permukaan kulit tubuh kita, namun tidak terlalu parah karena trauma gesekan yang dilakukan secara perlahan dan teratur. Kemerahan pada kulit terjadi karena pelebaran kapiler darah kulit atau bahkan perdarahan di bawah kulit (yang berubah menjadi kehitaman esoknya). Dan Alhamdulillah kita dikaruniai kulit yang memang mudah beradaptasi terhadap trauma dan kemampuan regenerasi yang demikian canggih dan cepat.

Berarti selama ini saya sembuh karena sugesti belaka... Gak papalah yang penting sembuh... Tapi ternyata, kerokan memilik efek samping yang (katanya) membahayakan...

Kerokan biasanya dapat menimbulkan ketagihan atau kecanduan. Orang yang sudah terbiasa dikerok merasa belum baikan jika belum menjalani ritual itu. Tapi menurut dr Yuni, terlalu sering melakukan kerokan dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang masih berfungsi dengan baik, dan hal ini bisa membahayakan kesehatan.

Sepertinya saya sudah berada pada level "kecanduan" akan kerokan. Dan nampaknya perlu untuk mengurangi kebiasaan ini... 

*Dan sampai sekarang, kepala ternyata masih nyut-nyut-an, tenaga belum pulih full...

Sumbernya dari sini dan juga dari sini

Babo

Hari ini, akhirnya saya ke lab karena ada lab meeting. Kemaren seharian di rumah karena masih gak enak badan dan masih capek banget. Dan begitu bertemu dengan teman-teman lab, saya diteriakin :

"Idham baboooo! How are you? We are worried about you!"

"I'm okay. Kwenchanayo."

"Oh Okay. So, Sonmul juseyo!" Mr. Ma bilang...

Giliran saya yang mencak-mencak,

"Woiii... kalian malah nanyain oleh-oleh. Bukannya nanyain kesehatan dan yang lainnya selama di Jepang. Huhuhuhu..."

"Oh no... I already sent you message..." Dong Jin said

"Me too, I wrote to her Facebook wall..." Edit gak mau kalah

Mr. Ma gak bersuara...

Mr. Ma, you don't worry about me!

"Nooo... Idham... I'm worried about you, too."

Dan ketika lab meeting, Profesor pertama kali menanyakan keadaan saya...
"Idham, how are you? Are you okay?"

~ThankYou~

Japan, Day 3 : Bad News

Selasa, 15 Maret 2011

Sekarang saya sudah hafal rute menuju Waseda...

Hari kedua conference, kami mendapat kabar kalau Nuclear Plant Jepang di Fukushima meledak dan terjadi kebocoran, empat dari enam reaktor nuklirnya. Panitia conference membatalkan jadwal keesokan harinya, dan jadwal pada hari itu pun dipercepat. Terlihat semakin sedikit peserta yang datang.

Saya bertemu dengan beberapa student dari KIST, kebetulan sebelum berangkat Profesor saya berpesan untuk mencari Profesor dari KIST yang menjadi committe di conference tersebut. Prof. saya bilang, dia akan datang bersama para graduate student-nya. "Please, find him and say hello. He will take care of you. Saya berkenalan dengan mereka, terutama seorang Ph.D candidate cewek, Eugene Chong. Dia menyambut saya dengan ramah. Dari Eugene inilah saya tahu kalau mereka semua mempercepat flight dan akan pulang keesokan harinya. 

Pukul 5 sore conference dinyatakan selesai dan ditutup, padahal seharusnya selesai pukul 7 menurut jadwal. Tampak ada risau dan kekhawatiran di muka chair of committe-nya ketika menutup acara. Dan orang-orang pun nampak tergesa-gesa untuk segera meninggalkan tempat conference. Salah seorang teman conference, Postdoc dari Kyoto Univ. menyarankan saya untuk segera meninggalkan kota Tokyo. Jika memang tidak bisa mempercepat flight, dia menyarankan saya besok pagi pergi ke luar kota Tokyo dan kembali ke Narita pas hari Kamis-nya. Berlama-lama di Tokyo dengan kondisi seperti ini bukan ide yang bagus. Ini adalah bahaya radiasi nuklir yang tidak bisa dilihat secara kasat mata. Tentu bukan ide yang bagus mempertaruhkan kesehatan, dan bahkan nyawa kita disini, begitu dia bilang.

Kemudian dia mengajak saya untuk ikut serta menjelajah sudut-sudut kota Tokyo malam itu, kalau saya mau. Karena memang berencana jalan-jalan dan tidak ingin hanya berdiam diri saja ketika berkunjung ke Tokyo, akhirnya saya setuju untuk bergabung dengan dia. Pertama kita ke daerah Shibuya - Harajuku Ometesando. Begitu keluar dari stasiun Harajuku, di depan kami telah terlihat Takeshita-dori. Di sepanjang jalan tersebut, merupakan pusat perbelanjaan yang cukup ramai, sebagian besar menjual pakaian dan aksesoris, kemudian juga ada beberapa restoran dan kafe. Kami terus menyusuri Harajyuku Street... 

Dari Shibuya, kami kemudian menuju daerah Roppongi buat nyari makan malam. Sudah menjelang pukul 7 malem, dan perut saya sudah keroncongan. Setelah beberapa lama mencari-cari tempat makan, akhirnya kami memutuskan untuk memasuki sebuah restoran tak jauh dari stasiun Roppongi. Begitu kami masuk, ternyata di dalamnya sepi dan saya lihat ke sekeliling, banyak terdapat botol minuman. Saya ngerasa rada kurang enak, walaupun di Korea, telah terbiasa melihat pemandangan tempat makan yang banyak disajikan minuman beralkohol. Tapi kali ini saya merasakan suasana nya sedikit aneh dan lain, entahlah. Kemudian pelayan restoran datang, dan saya sedikit surprise mengetahui bahasa Inggris-nya sangat lancar. Saya kemudian pesan minuman jus strawberry, sedangkan si Postdoc Kyoto Univ. memesan segelas Ebisu. Dia meminta ijin ke saya apakah saya okay jika ia memesan Ebisu. It's okay, saya bilang. Tak berapa lama kemudian, minuman kami datang. Dan entah karena gugup atau kenapa, saya sendiri kurang tahu persis-nya, saya menumpahkan minuman jus saya. Saya berulang kali meminta maaf, dan pelayan kemudian mengganti dengan jus yang baru. Setelah itu dia memberikan buku menu (semuanya dalam bahasa Jepang) dan menanyakan pesanan kami. Saya bilang ke si Postdoc Kyoto Univ., kalau saya gak makan daging apapun dan juga ayam, dan meminta tolong untuk menanyakan menu yang ada. Dia telah 2 tahun tinggal di Jepang, lumayan bisa bahasa Jepang. Dia pesen nasi ikan, sashimi, dan tofu untuk kami berdua, kebetulan dia juga gak makan daging.

Sembari menunggu makanan datang, kami mengobrol. Saya lebih banyak jadi pendengar, dan dia berbicara banyak malam itu tentang banyak hal. Saya memberanikan diri bertanya agama yang dia anut. Dia menjawab officially Hindu, tapi secara praktekknya agama dia adalah sesuai apa peran yang sedang dia jalankan. Misalnya, di depan ibunya, agama dia adalah anak laki-laki, bagi negaranya, agama dia adalah warga negara, di depan gurunya, agamanya adalah murid, dst. Saya manggut-manggut aja mendengar penjelasannya, walaupun tidak sepenuhnya saya mengerti. Setelah itu dia mulai bertanya hal yang menurut saya sudah menyangkut privasi, dia bertanya apakah saya sekarang sudah punya pacar atau tunangan. Saya jawab belum. Dan kemudian dia bertanya kenapa... 
Rasa tidak nyaman saya semakin bertambah.... Tapi kemudian berpikir bahwa mungkin itu hanya perasaan saya saja...

Ketika kami selesai makan, dan pelayan memberikan nota ke meja kami, saya lihat jumlahnya lumaya besar. Dan ketika saya mengeluarkan dompet untuk ikut membayar, dia bilang tidak usah dan dia tidak suka jika saya ikut membayar. Dia bilang dia tahu saya masih student. Saya tetep ngotot ingin ikut membayar, tapi kemudian dia memaksa. Ya sudahlah...
Dan saya hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih...

Udara malam semakin dingin, dengan angin yang berhembus sangat kencang, saya hanya mengenakan jas tipis. Saya menyesal kenapa jaket yang saya bawa di tas kemarennya, hari ini saya keluarkan dan saya tinggalkan di hotel. Kemaren udara sangat panas hingga saya pikir tidak perlu untuk membawa jaket, tapi kemudian hari ini berubaha drastis, menjadi sangat dingin.

Setelah itu, dia bertanya saya ingin pergi kemana, dan kemudian kami akan segera menuju kesana. Saya bilang, saya ingin pergi ke Tokyo Tower. Dan meluncurlah kami kesana, turun di Stasiun Akabanebashi, berjalan sekitar 10-15 menit. Tokyo Tower terlihat kecil dari kejauhan, lampu mati malam itu. Maklum karena kota Tokyo sedang dilanda krisis energi listrik, dan sedang dilakukan usaha penghematan. Setelah sampe di dasar-nya ternyata lumayan tinggi dan besar. Tapi ternyata Tokyo Tower malam itu ditutup, kami tidak bisa masuk apalagi naik ke atas. Setelah mengambil beberapa gambar, akhirnya kami balik. Suasana sangat sepi di jalan-jalan sekita Tokyo Tower padahal belum begitu larut malam. Mobil-mobil hanya terlihat sedikit yang melintas. Aneh...

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kami ke Shinjuku. Saya bilang saya tidak ingin semakin menjauh dari tujuan kami pulang, karena dalam kondisi seperti ini, saya khawatir subway dan kereta tidak beroperasi sampai larut malam. Akhirnya saya bilang ke daerah Shinjuku saja, terus kemudian bisa ke Ikebukuro. Dia mengiyakan. Malam itu kami agak "nyasar" di daerah Shinjuku dikarenakan setelah bertanya pada 3 orang, dan semuanya memberikan jawaban yang berbeda. Pelajaran yang bisa saya ambil kala itu, yaitu bila kita sedang meng-explore suatu wilayah, tetap berpegang pada tujuan awal kita, dan jangan terpengaruh dengan pendapat orang yang mengatakan kesini lebih dekat atau bagaimanapun. Karena jika kita mengikuti mereka bisa jadi rencana kita kacau dan menjadi semkain tersesat. Seperti kami malam itu, setelah berjalan berputar-putar tak kunjung menemukan stasiun terdekat....

Malam semakin larut... Dan saya sedikit was-was... Bukan tanpa alasan, karena si orang ini mulai berlaku aneh terhadap saya. Dia mulai berani mencoba menggandeng tangan saya, walaupun kemudian saya segera mencari cara untuk melepaskannya. Saya tidak berani melakukannya secara frontal dan langsung marah-marah ke dia, saya sadar saya sedang berada di negeri orang sendirian dan bersama dengan orang yang baru saya kenal 2 hari yang lalu. Sampai akhirnya saya meminta untuk pulang dan kembali ke hotel, dan kaget mendengar jawaban dari dia, "Kamu bisa stay di hotel saya. Jangan khawatir."
Saya jawab tidak bisa, saya harus segera pulang memberi kabar ke teman saya... Dan saya memaksa untuk segera pulang... Dan berulang kali dia bilang bahwa saya bisa stay di hotel dia malam ini...

Ada yang tidak beres... Saya harus segera pulang... Akhirnya saya bersikeras ingin pulang dan dia pun menyerah... Akhirnya kami pulang... Saya sengaja mengambil tempat duduk yang terpisah jauh dari dia ketika di kereta... Dan pas dia turun duluan, saya hanya melambaikan tangan dan tersenyum bilang terima kasih...

Bukannya saya tidak tahu berterima kasih... Tapi dari ucapannya, tersimpan maksud yang kurang baik terhadap saya dan adalah bodoh sekali jika saya berlama-lama dengan dia dan tidak segera meninggalkannya.

Kejadian malam itu memberi pelajaran kepada saya, bahwa tidak semua orang yang berlaku baik kepada kita karena memang dia baik dan benar-benar melakukannya tanpa niat (buruk) lain apapun. 
Sisi baiknya, overall, sebelum dia melontarkan kata-kata seperti itu dan saya jadi membaca niat buruknya, dimata saya dia baik. Untung ketahuan niat buruk-nya di akhir-akhir.
Saya tidak tahu, entah saya-nya yang bego dengan menganggap semua orang yang berbuat baik itu adalah bener-bener baik, saya-nya yang bego dengan selalu berusaha tidak berburuk sangka terhadap orang lain, atau memang saya-nya yang kurang hati-hati. Apapun, ini seperti mengingatkan saya untuk lebih berhati-hati...

Dan malam itu, saya mendengar kabar kota Tokyo masih di landa gempa susulan...

Japan, Day 2

Senin, 14 Maret 2011

Adalah hari pertama jadwal dimulainya conference TOEO7 yang dilaksanakan di International Conference Centre, Waseda University. Dari hotel, saya berjalan kaki kira-kira 10 menit ke Stasiun Otsuka, kemudian mencari kereta yang menuju ke Waseda. Kurang enaknya di Jepang, peta kereta/subway sebagian besar gak ada tulisan dalam huruf latinnya, jadinya agak kesulitan. Akhirnya saya nanya sama seseorang, dan dia bilang keretanya menuju kesana sedang tidak beroperasi. Dan dia membawa saya ke bagian informasi. Disana, si Mbak-Mbak nya membawa saya ke line tramp. Dari Otsuka ada tramp langsung menuju Waseda. Tapi sayangnya ketika saya akan membeli tiket, petugas penjaga tiket-nya, seorang wanita setengah baya bilang kalau tramp menuju Waseda tidak beroperasi. Aaahhhh... Akhirnya saya balik lagi ek bagian informasi, dan Mbak-Mbak nya menyuruh saya menuju Stasiun Takadanobaba lewat Yamanote Line setelah itu transfer subway ke Waseda. Dan gak enaknya di Jepang lagi, bisa saja kalau mau transfer, bisa saja stasiun nya berada sangat jauh atau terpisah. Jadi modal peta subway saja sepertinya tidak cukup, harus bener-bener membaca tanda-tanda penunjuk dan jangan malu untuk bertanya. Memang gak semua orang Jepang bisa berbahasa Inggris, tapi setidaknya mereka bisa nunjukkin ke arah tujuan kita. Sekitar 80% pertanyaan yang saya ajukan dalam bahasa Inggris, dijawab dengan bahasa Jepang. Gak apa-apa, toh bisa nyampe juga.

Tidak ada satu jam saya sampe di Stasiun subway Waseda, dan dengan pede nya ngikutin keramaian orang dari stasiun, mereka ke arah mana. Ternyata saya salah arah, setelah berjalan cukup jauh tapi tak juga menemukan tanda-tanda, Waseda berada di arah sebaliknya. Baru tahu setelah nanya seorang anak SMA, tapi toh dia gak bisa bahasa Inggris juga. 

Akhirnya sampai di Waseda University. Kampusnya lumayan luas. Tapi itu justru yang jadi masalah. Gak ada tanda-tanda/petunjuk conferece, gak ada tanda-tanda letak ICC (International Conference Centre), dan semua peta-nya gak ada bahasa Inggrisnya. Akhirnya saya bertanya (tepatnya gangguin), seorang cowok yang sedang asyik berinternet ria di taman. Dan ternyata dia pun gak tau letak ICC-nya Waseda. Oh My God... Terus saya bilang, minta tolong di googling in mumpung dia connect internet. Dan dia pun melakukannya dengan senang hati. Setelah itu dia mengajak saya mencari letak ICC berbekal peta di laptop nya. Nanya-nanyain ke satpam, dan sepanjang perjalanan dia membopong laptop nya dalam keadaan terbuka agar bisa sambil liat peta. Setelah kami ngobrol-ngobrol, baru tahu ternyata dia adalah keturunan Korea, tapi lahir dan besar di Jepang. Bahasa Inggris nya lumayan bagus. Letak ICC-nya ternyata lumayan jauh dan cukup tersembunyi. Bahkan sampai di depan gerbang nya pun, tidak ada petunjuknya juga. Beuh... 

Setelah masuk ke dalam, baru kemudian saya langsung registrasi dan ternyata banyak sekali name tag yang masih tersisa. Itu berarti bahwa banyak peserta yang tidak datang. Dan benar adanya, peserta conference-nya memang gak terlalu banyak. Segera saya ke atas dan memasang poster, kemudian menuju ke Oral session. Saya ketemu dengan orang India yang satu kereta pas di Keisei line dari bandara Narita. Post Doc dari Pukyong University, Korea. Dia dengan salah seorang India lainnya, daro Kyoto University, ambil Post Doc juga. Saya dikenalin sama temannya itu. Mereka berdua cukup baik dengan saya, terutama yang dari Kyoto University.

Akhirnya pukul 7 malem, setelah poster session selesai, conference nya juga selesai. Saya, dan dua orang Postdoc India pulang sama-sama. Kebetulan kami bertiga menuju ke arah yang sama, tapi kemudian kami berpisah di Takadanobaba. Saya menuju ke Otsuka, mereka menuju ke arah yang lain. Sebelum si Postdoc Kyoto Univ., menuju ke line nya, dia bener-bener memastikan saya ke line yang benar, Yamanote Line ke arah Ikebukuro. 

Dan sebenarnya saya cuma nanya track nya bener apa gak ke ibu-ibu, tapi kemudian dia ngajakin saya untuk barengan, karena kebetulan dia ke arah Sugamo. Dia ngajakin ngobrol, tapi saya gak ngerti oarang gak bisa bahasa Jepang dan dia juga gak bisa bahasa Inggris. Selang 3 stasiun dari Takadanobaba, sampailah saya di Otsuka dan ibu-ibu tadi menyuruh saya turun.

Karena perut udah laper, saya nyari makan di sekitar hotel dan nemu soba jadi pengen nyobain. Akhirnya saya masuk, dan ketika mau mesen (yang cuma saya nunjuk ke gambarnya yang mana), dan untuk memastikan ibu-ibunya mengajak saya keluar lagi untuk memastikan  pesenan saya dengan display yang ada di depan. Kemudian dia mengajak saya lagi masuk dan menunjukkan vending machine. Ternyata di Jepang, beli soba pun pake vending machine buat beli kuponnya....

 Sakura udah mekar di Waseda


Lingkungan kampus Waseda

Peserta conference TOEO7

Peserta conference TOEO7
 
Banyak sepeda dimana-mana

Suasana malam di Otsuka

Hot Soba, harganya cuma 400 yen

 Narsis sendiri di Toyoko Inn

Finally, I Arrived to Japan


Akhirnya... saya menginjakkan kaki di tanah kelahiran Musashi, Jepang.... 
Finally, dream comes true. 

Setelah melalui perjalanan panjang sejak setahun yang lalu untuk bisa kesini, harap-harap cemas nunggu abstract acceptance, perjuangan dapetin visa, sempat nyaris batal 2 hari sebelum keberangkatan, dan perjalanan yang gak kalah panjang dari Gyeongsan menuju ke Toshima-ku, sempat bingung dengan sistem transportasi di Jepang yang jumlahnya jauh lebih banyak, sendirian dengan beban bagasi yang mungkin separo lebih dari berat badan saya, akhirnya nyampai juga di penginapan...

Kesan pertama tentang Jepang adalah, orang Jepang ternyata baik dan ramah... Terbukti, saya ketemu dengan salah seorang cowok Jepang satu flight dengan saya dari Gimhae. Dia bantuin saya dari turun  pesawat sampai dengan naik kereta Express bandara menuju Otsuka Station, nanyain informasi cara yang lebih mudah menuju kesini, beliin tiket, menuliskan rute-rute-nya serta menandainya di peta saya, dan karena tahu saya sendirian, maka dia terus mendampingi saya sampai menuju track Tokyo Express dan memastikan saya naik kereta yang benar... Karena ketika berangkat, saya belum tahu dan belum punya informasi bagaimana menuju hotel saya dari bandara...

Nyampe hotel langsung tidur, ngantuk dan capek banget soalnya semaleman gak tidur sama sekali... 

Seharusnya saya berangkatnya sama student dari Kyungpook University, tapi berhubung terjadi gempa di Jepang mereka tidak jadi berangkat. Dan jadilah saya berangkat seorang diri...



 Narita Airport


Otsuka Station

Nyaris

Hari ini saya akhirnya bisa ke Konsulat Jendral Jepang di Busan buat apply visa. Setengah 9 berangkat dari rumah ke Student Support Service buat nge-print Attendance Certificate dulu, pas banget nyampe sana jam 9 jadinya bisa langsung nge-print. Abis itu saya langsung ke depan kampus, niatnya mau nyari bis buat ke Stasiun Gyeongsan. Berhubung saya gak tahu bis nomer berapa dan dari arah mana, saya akhirnya putuskan naik taksi aja. Ngejar waktu kereta ke Busan jam 9.50. Sebelumnya, entah kenapa saya ada feeling harus nge-print buku tabungan yang jumlahnya sedikit lebih banyak dari kemaren yang sudah saya fotokopi. Akhirnya mampir dulu ke Daegu Bank... Nge-print... (Hingga akhirnya saya menyadari kalau tindakan saya ini sangat benar dan tepat sekali)... *Halah

Nyampe Stasiun Gyeongsan, masih ada 15 menit sebelum kereta berangkat. Dan dengan tiket kereta Mugunghwa seharga 6.200 won mengantarkan saya sampe di Busan pukul 11.12. Segera naik taksi karena mengejar waktu sebelum jam makan siang. Kalo jalan kaki takut gak keburu, mana tempatnya belum tahu. Ternyata cukup deket, 5 menit naik taksi dari Stasiun Busan. Dapetnya sopir taksi yang wah, bahasa Inggrisnya lumayan bagus, ramah dan baik. Dan mengira saya adalah orang India, karena mata saya lebar. dia bilang. Pas saya kasi tulisan saya nama tempatnya, dia gak percaya gitu kalo itu tulisan tangan saya... hihihi...

Nyampe-lah d Konjen dan saya segera ke bagian pembuatan visa. Saya kasihin semua dokumen. Karena kurang Letter of Reason, si Mbak Mbak nya nyuruh saya bikin pake tulisan tangan di bawah Schedule of Stay, plus suruh tanda tangan. Jadi, kalau ada yang mau ngurus visa di Konjen Jepang di Busan, jangan lupa bikin Letter of Reason ya...

Akhirnya dokumen saya diperiksa sama Mbak-Mbak nya lagi dengan lebih teliti. Saya harap-harap cemas, takut ada yang kurang atau kenapa-kenapa. Soalnya udah gak ada waktu lagi, besok udah hari Jumat. Dan si Mbak nya bilang gini abis nge-check buku fotokopian buku tabungan saya...
"Frankly speaking, your money is too small..."

Saya langsung deg... Waktu nanya Mr. Ma, jumlah ditabungan saya segitu cukup apa gak dia bilang gak apa-apa, jadi saya santai saja. Tapi kemudian teringat kalau semalem Mas Boy abis nransfer ke rekening saya, jadi jumlahnya sekarang lebih banyak.

Dan saya bilang ke Mbak nya kalau buku tabungan saya yang ter-update jumlahnya sedikit lebih banyak, dan saya tunjukkan dan minta dikopi sekalian... Dan, akhirnya sedikit lega pas saya tanya apa segitu cukup, dia senyum-senyum sambil bilang setidaknya lebih baik dari yang tadi. Visanya bisa diambil besok pagi, tambahnya...

Woohhh... Untung banget tadi pagi saya kepikiran nge-print... Dan berterima kasih banget sama Mas Boy yang semalem udah transfer ke rekening saya... 

Besok harus ke Busan lagi ambil visanya...
Semoga saja semuanya beres...                  

Ayo Lebih Peduli, Dham!

Saya hari ini ngrasa cukup "wow" (baca terharu), atas kepedulian orang-orang disekitar terhadap diri saya. Kemaren Profesor nitipin kota peta Tokyo sama Tokyo subway map ke Mr. Ma buat saya, kemudian hari ini beliau ngasi saya amplopan lembaran uang yen. Beliau bilang jumlahnya emang  gak banyak, setidaknya itu yang masih tersisa di beliau yang bisa dikasihin ke saya. profesor saya juga nyariin teman barengan untuk pergi ke conference, gak ingin sampai saya bener-bener sendirian (demikian juga untuk case beberapa conference saya yang sebelumnya).

 Pas chat sama Mbak Windu, begitu tahu saya mau pergi, beliau bilang, 
"Dham, kalo butuh apa-apa bilang ya. Ntar gue transfer. Jangan dibikin susah. Mumpung gue ada. Yang penting lo have fun disana."
"Alhamdulillah masih ada, Mbak."
"Beneran ada?"
 "Iya. Alhamdulillah masih ada."  *walaupun jumlahnya gak seberapa*
"Yowes, kalo butuh apa2 bilang ya dham"

Soalnya Mbak Windu pernah denger cerita nya pas jaman-jaman saya susah dulu, saat stipend belum turun, lab gak ada duit jadinya biaya conference pake acara saya pinjem ke temen yang lain dulu... Dan karena ada masalah dengan keuangan lab saya, jadi penyebab saya pernah bermasalah juga dengan salah satu labmate...

Terus lagi, pas mau nanya-nanya ke Konjen Jepang di Busan sama Mas Boy sekalian minta rekomendasi tempat yang akan dikunjungi di Jepang... eh, dia nya malah nawarin mau nransferin (minjemin) begitu tahu nominal tabungan saya. Dan beneran ditransfer. Padahal saya lagi gak nyari pinjeman, dan gak ada di pikiran saya juga. Soalnya saya pikir uang di tabungan saya sudah cukup untuk saku kesana.

"Gak usah Mas Boy. Tabungan gue udah cukup ini."
"Buat jaga-jaga Dham, soalnya elo khan cewek kalo misalnya ada apa-apa. Pokoknya uang yang Boy transfer ini di cash in aja dan dibawa buat jaga-jaga elo selama disana."
Dan akhirnya beneran di transfer walaupun saya sudah bilang gak usah... Sekalian dikasi Handy Guide nya Tokyo...

Ini Mas Boy nya juga tahu masalah di lab saya waktu itu... Sedikit terlibat dan ikut prihatin waktu itu... Sampai saya nangis-nangis di lab nya Mas Boy waktu itu, ada Mbak Vita dan Eiffel juga...
Yang masih saya inget, dia bilang "Sabar ya Dham. Tetep semangat aja..."
Sesepuh kami yang satu ini memamg sangat baik dan perhatian terhadap kami-kami semua... Sayang suka nge-ceng-in dan saya kena mulu... hihihihi... Gpp, buat hiburan dan nyenengin orang lain juga... :D

Yang terakhir, ada orang yang mau bantuin juga... Saya sangat menghargai sekali dan sangat berterima kasih atas kepedulian serta kebaikan hatinya. Tapi sepertinya belum perlu untuk saat ini...

Yang pasti saya gak mau kalo sampai dikasi bantuan secara cuma-cuma... Hahaha... *Sok banget...
Iyalah... selama masih mampu kenapa enggak usaha sendiri...
   
*Tu khan gaya lagi...

Padahal masih punya utang 1100 dollar... hahaha...

Biarin... Nanti akan segera saya bayar setelah stipend 6 bulan ke depan turun.... *entah kapan*

=====> Nasib jadi mahasiswa merangkap kuli yang bayarannya 6 bulan sekali...

NB : Ayo lebih peduli lagi dengan lingkungan sekitarmu Dham, orang lain aja banyak yang masih peduli sama elo! Masak elo nya kalah!

Dolphin Doll



Accidentally discovering this cute blue stuff that make me dazzled and unable to switch off my eyes for not seeing this 'dee-dee'. Then, it reminds me with my little cute dolphin doll which is left in my hometown.

For me, dolphins are fabulous creatures. They symbolize smartness, faithfulness, gentleness and friendship. I think, almost people will agree with this statement, won't you?

Wanna to have this lovely one and it's a MUST...

Let's go to Gmarket! Yaayyyy...

So Sweet Korea (Part 1)

AOh My God!Gak bisa tidur... Ya iyalah, orang baru bangun! *JitakIdham*

Daripada ngomongin hal-hal yang gak baik dari orang-orang, terutama orang Korea, mending ngomongin yang baik-baik dari mereka. Apalagi ini saya sering mendengar beberapa orang bertanya ke saya, contohnya "Bener gak sih kalo orang-orang Korea itu galak?", "Orang-orang Korea nya disana gimana ya?", "Eh, bener ya kalo orang-orang Korea suka gak ramah sama orang asing?" dsb dsb...

Mungkin bisa sedikit memberikan gambaran... Ini saya mau cerita yang indah-indah tentang mereka... *halah*
  • Di mulai dari yang paling deket dulu deh, yaitu lab tercintah, saya punya labmate namanya Park Jae Sung. Dia anak undergraduate, tapi umurnya lebih tua dari saya. Ini anak baik banget, ramah dan sopan. Si Jae Sung suka sekali tiba-tiba bagi-bagi makanan atau minuman, makanan yang dia bawa dari rumah atau beliin kami-kami semua minuman dari vending machine. Tiba-tiba aja dateng, terus bilang "Idham, this is for you!". Terus kalau dia sedang makan snack apa gitu, dia bagi dengan saya katanya suruh nyobain. Selama ini saya merasa sudah banyak ngrepotin dia, mulai dari urusan remeh temeh suruh bikinin account Gmarket atau nukerin sepatu boot yang salah ukuran pas belanja online, sampai benerin rubber ring nya substrate rotation mesin sputtering. Saya inget waktu itu sudah hampir tengah malem dia masih ngutak atik mesin "horror" itu untuk saya, dan itu pun setelah melalui 3 kali ganti rubber ring... Oh, Jae Sung yang penyabar! Dan yang paling saya inget sampai sekarang adalah waktu itu, tanpa sengaja karena gak hati-hati, jari saya kegores valve penutupnya tabung argon sampai berdarah. Lumayan banyak dan perih. Saya sembunyiin agar gak ketahuan siapa-siapa, mana di lab gak ada obat-obatan. Terus kemudian ketahuan sama Park Jae Sung, "Idham, tangan kamu kenapa?". Saya bilang gak kenapa-kenapa, segera saya sembunyiin. Dia keluar. Saya pikir dia pulang. Selang beberapa waktu kemudian, dia kembali dengan membawa obat untuk luka saya... Dan dia bilang, "Idham, lukanya disembuhin dulu ya. Ini ada obat!" Saya menduga dia keluar nyariin obat untuk saya, yang entah nemunya darimana.... Aaaaa~~~ so sweet banget! Saya paling gak bisa ini kalo gak tersentuh sama yang begini-beginian, ada orang yang berbuat sesuatu untuk saya, walaupun hanya sesuatu yang kecil... Pasti bakal keinget, walaupun ingatan saya sangat buruk...
Bersambung ke episode berikutnya... Nantikan dengan tokoh lainnya... *halah*

Ntahpapa Di Two Rooms Kita

Life is sometimes unpredictable, isn't it? Just found some "wow wow" things, so I write this post to divert my thinking... :D

Ceritanya ini gak mau mikir dan kepikiran yang berat-berat...

OK, langsung dimulai saja saya akan sedikit bercerita tentang two rooms saya (kami mangsutnya) :
  • Jika kamu berkesempatan singgah di kamar mandi kami, akan kamu jumpai pasta gigi anak-anak rasa stroberi. Jangan berfikir bahwa kami telah menculik anak siapa... tapi bertanyalah maksudnya ini apa-apaan dan siapa pelakunya  *Bocoran : pelaku sesungguhnya adalah makhluk-makhluk aneh penghuni Rodembil yang berinitial I dan E... :p Dan selusin odol-odol tersebut telah dibeli untuk memenuhi ide-ide di otak mereka yang terkadang suka yang isanghe-isanghe... :D
  • Jika kamu melihat di sekitar dapur merangkap ruang tamu merangkap ruang keluarga merangkap lagi ruang makan, kamu akan menemukan banyak sekali kotak makan, dan tersedia dalam berbagai ukuran. Jangan heran, karena kami adalah kuli-kuli lab yang merangkap sebagai ibu-ibu catering. Heranlah jika ternyata kotak-kotak makan itu tutupnya  pada gak ada, raib entah kemana. Tapi jangan bilang kalau kami adalah pemakan tutup kotak makan. Saya sendiri juga heran dengan sejarah tutup-tutup kotak tersebut. Dugaan kuat : pelaku adalah anak-anak catering yang terkenal kebandelannya.
  • Jika kamu membuka kulkas, kamu akan menemukan banyak sekali es krim dalam berbagai rasa yang ditimbun bertumpuk-tumpuk. Jangan tanya lagi siapa pelakunya. Sudah pasti dan jelas-jelas adalah si Pandachan.
  • Jika ditemukan makanan yang entah sudah berapa lama berada disitu, di kulkas, di meja atau di mana saja, gak disentuh apalagi dimakan, kemudian akan ada yang ngomel-ngomel dan ketahuanlah siapa pelakunya. Dan dia  dengan seenaknya akan bilang lupa telah membelinya. Pelaku sesungguhnya adalah yang nulis ini postingan ini, yang hobi beli-beli makanan tapi malas untuk memakannya.
  • Jika saya, terbangun di pagi hari, siang hari ataupun sore hari, terkadang sudah tersedia kopi, teh susu atau minuman lainnya di meja, yang sering membuat saya berguman sendiri, "Aahh... life is beautiful, isn't it?"... Pelaku : si nenek-nenek cantik... yang suka berbaik hati menyediakan minuman buat kami.
  • Jika kamu bertanya darimana asalnya beberapa barang-barang di rumah kami semisal lemari dan meja lipat, jangan heran jika sebagian besar jawabannya adalah dari tempat sampah.
  • Jika saya, tidak segera tidur atau ketahuan belum tidur dalam jangka waktu yang sangat lama, seseorang akan mengubur saya dengan selimut rapat-rapat, dan mengomel-ngomel menyuruh saya segera tidur. Pelaku : sama dengan si pemakan es krim segala rasa.
  • Jika saya terus-terusan tidur, gak mau bangun-bangun, akan ada seseorang yang akan menyeret saya untuk sekedar makan atau untuk pergi ke luar. Ini adalah fakta, saya bener-bener di seret dari kasur. Pelaku : sama dengan yang menyuruh saya tidur.
To be continued....

 *) Ini ditulis untuk mengenang masa-masa tinggal di two rooms bersama mereka-mereka, salah satu bagian dari perjalanan hidup saya, terutama selama berada disini... Sebelum waktu akhirnya mencuri potongan-potongan kenangan itu dari memori otak saya...

Seoul Trip : (3) National Museum of Korea

After visiting Deoksugung Palace, we continued our trip to next destination. We didn't get off in all of place where the bus stopped, but chose some of them sound interesting. And, National Museum of Korea became one of our choice. It is the largest museum at Korea and become the place for precious Korean cultural assets, telling silently about Korean fascinating history. Not only in old era, but it also shows the modern era of Korean life. Its location is near Yongsan Family Park, a wooded grassland with a pond that serves as a natural habitat for various species of birds, as well as over 80 different kinds of trees. It's also near The War Memorial of Korea, which it became the next destination after. 

The museum consists of a large number of exhibition array and gallery displaying so many heritage objects. The place is very clean and well organized. It is the stage for a number of cultural activities related to relics collection and preservation, research and analysis, social training, academic publications, international cultural exchange programs, concerts, and more.

Here, I upload some picture taken in National Museum of Korea....



S.E.O.U.L lagi

Ke Seoul, untuk yang kedua kalinya...
Sepertinya beberapa minggu terakhir ini, selalu ada acara pergi ke luar kota. Mulai dari  ke Seoul sebulan yang lalu kemudian ke Daejon, minggu berikutnya ke Memul Island dan minggu ini harus ke Seoul lagi. Fiuhhh, lumayan capek... Belum lagi minggu depan, para Gyeongsaner mau pergi ke Busan.... Whaaa... I want to take a rest...!!
Tapi Alhamdulillah, satu step event telah terlewati, yaitu IUMRS-ICEM 2010 atau "International Union of Materials Research Societies - International Conference on Electronic Materials 2010". Huh, sedikit banyak, gara-gara conference itu, saya jadi manusia kelelawar beberapa waktu terakhir ini. Setidaknya sekarang bisa sedikit bernafas lega untuk sementara... *eh, jangan seneng dulu, paper belum submit, jadi gaweannya belum selesai... ahhh... sigh*

Conference kali ini, dapat pelajaran : pertama... belajar betah di subway selama hampir 2 jam... Sampai bosen saya, ditinggal tidur, bangun belum nyampe, bangun lagi belum nyampe, bangun lagi masih belum nyampe... beuh... Secara tempat conference nya di KINTEX yang notabene stasiun subway nya  adalah stasiun paling ujung. Beberapa hari di Seoul jadi sedikit apal stasiun-stasiun subway disana. *ceritanyasekalianbelajarnaeksubwaykarenalinesubwaydiseoulada9buah*
Belakangan baru tahu kalao ternyata KINTEX itu termasuk wilayah Gyeonggi-do.... Pantesan jauh banget... *huh*


Senjata andalan... Seoul Subway Map...

Pelajaran yang kedua adalah, belajarlah dengan sepenuh hati jikalau ingin mahir berbahasa asing. Dapat pelajaran tentang ini dari si Amandine Mareschi, cewek Perancis yang sangat-sangat fasih berbahasa Indonesia, bahkan hampir tak bisa dibedakan dengan orang Indonesia asli... Sampai sekarang saya masih terheran-heran dengan kemampuan berbahasa Indonesia-nya yang amazing itu. Kami ketemu Amandine di guesthouse deket Hongik University. Kami menginap di guesthouse itu dan kebetulan mereka, si Amandine dan Laurence, temennya juga menginap disana. Pertama kali yang menyapa saya adalah si Laurence (baca = Lohong). Si Laurence ini ternyata mamahnya dari Indonesia (Bali), dan papanya Perancis. Dan di Korea dalam rangka liburan. Dia punya nama Indonesia juga lhoh, Ni Wayan Dewi siapa gtu lupa panjangnya, pokoknya panggilannya Dewi. Si Laurence bisa berbahasa Indonesia, walaupun kadang masih lama mikirnya, tapi tergolong lumayan bagus. Kemudian hari berikutnya, dia memperkenalkan dengan temannya itu, si Amandine. OMG, si Amandine ternyata bahasa Indonesia jauh lebih fasih. Tidak terlihat logat-logat bule nya sama sekali. Perfecto....Bahkan bahasa-bahasa gaul pun dia tahu... Double surprising saya jadinya.... Kami ngobrol-ngobrol banyak, berempat pake bahasa Indonesia, terlihat aneh... Sedang di Korea, ngobrol dengan orang Perancis dalam bahasa Indonesia... serasa pulang kampung.... hahaha... Terlebih, mereka tau juga berita-berita tentang Indonesia, esp. berita Ariel dan Luna Maya.... *wadezig...

Dan saya tanya "how can" dia bisa berbahasa Indonesia sebagus itu, dia bilang menyukai bahasa Indonesia dan mempelajarinya dengan sepenuh hati (Belakangan saya lihat di facebook nya emang bule satu ini cinta banget sama Indonesia kek nya, soalnya sering nulis pake bahasa Indonesia di facebooknya, terus banyak album-album foto nya berlokasi di Bali. Waktu di guesthouse, dia juga sering bilang love Indonesia ke guest lainnya, sampe-sampe si James Kim, salah satu owner tempat tersebut yg sepertinya suka sama Amandine, jadi patah hati dan menyanyikan lagu dengan gitarnya "why do you love Indonesia, not Korea"... hahaha... kami semua ngakak dibuatnya... Kebetulan waktu itu ada yang berulang tahun, jadinya seluruh penghuni guesthouse yg dari berbagai negara itu ngumpul dan rame jadinya....).
Ah, saya jadi malu, bagaimana bisa seorang Perancis sangat mencintai Indonesia, sementara saya sendiri kadang merasa sangat kurang, kecintaan saya terhadap tanah air saya....
Bahkan dia menguasai lebih dari 10 jenis tarian Indonesia lhoh. Saya, boro-boro, disuruh belajar nari malah serasa pengen segera kabur dari sanggar...






Obrolan berlanjut Kafe, mereka mengajak kita ngobrol disana sampe jam 3....Dan ternyata si Amandine ini sudah 3 bulan plesiran, mulai dari Malaysia, Indonesia, Vietnam, Hongkong, China, Thailand dan sekarang sedang beristirahat di Korea... Ya ampun Amandineeeeeee...

Di ujung pembicaraan, dia bilang kalau nanti kalo ke Eropa menginap di rumah-nya saja, tak perlu menginap di hotel... Dan bilang, kami harus mengunjungi Eropa suatu saat nanti, dan kalau bisa cari beasiswa kesana... Kemudian kami saling bertukar alamat facebook....

Whaaaa.... Mandine, kau membangunkan hasratku kembali untuk pergi kesana.... !!!

Terjebak Hujan

Huhuhu... biasanya hujan di Korea jarang-jarang yang deres, paling banyak cuma hujan rintik-rintik dan gerimis mengundang. Tapi semalem entah kenapa, kek nya si hujan tahu persis biasanya gue  jarang mandi kalo pulang malem banget (uppzzz... jorok... biarin!! Gue bisa masuk angin ntar klo gue mandi). Eh, gue semalem pulang jam setengah 3 itu masih termasuk malem apa udah pagi ya? Dan memang jam segitulah biasanya gue baru keluar dari lab tercintah, udah kayak jam keluarnya kuntilanak aja (tapi untung di Korea kagak ada si kuntilanak...hihihihi....). 

Dan akhirnya, diguyurlah gue dengan bergalon-galon air... hohoho... lebay.co.kr. Seriusan. Mana gue lagi kagak bawa kunci dan payung di tas. Se-set kunci gue, kunci rumah sama lab, ketinggalan pas ngaji Qur'an di rumah Sister Rihab yang orang Mesir itu siang harinya. Duh,  kadang gue suka heran sama diri gue sendiri, pikunnya melebihi nenek-nenek 70 tahun, padahal nenek gue aja belum pikun-pikun amat, masih inget kalo gue ini cucunya....hahahaha. Dibawain sih tuh kunci sama si Mbak Vita, tapi tetap aja, lupa ngambil ke lab nya. Dooohhhh.... Dan pas mau pulang,  gue sempetin mampir ke lantai 3, lab nya Mbak Vita berada. Siapa tahu masih ada  makhluk di lab itu, gue jadi bisa mengambil kunci dan tidak perlu bangunin orang rumah pas pulang.  

Tereeeennnngggg..... lantai 3 ternyata gelap gulita, tidak ada satupun lab yang lampunya masih nyala.  Maklum udah setengah 3.... Di lantai 4 tempat lab gue berada kayaknya juga udah gak ada orang, cuma gue doank yang masih betah tuh jagain lab, cuma lampu-lampu selasarnya masih nyala, belum dimatiin. Tapi kadang-kadang dimatiin  sama petugas jaga, padahal masih ada orang di lab. Gue sering tuh kayak gitu, mungkin bapak-bapaknya kagak tau kali ya klo masih ada orang. Alhasil gue meraba-raba buat keluar dari lorong lantai dalam kondisi gelap gulita. Gila... gelap banget. Serem gak tuh, ditambah cerita-cerita pernah ada cewek yang meninggal di lab. Gue kadang ngerasa kayak ada yang ngeliatin atau berdiri di belakang gue, tapi kek nya cuma perasaan gue aja. 

Wedew, cerita tentang hujan kok malah jadi kemana-mana. Kembali ke hujan...

Waktu masih di lantai atas sih gak kedengeran kalo lagi hujan (apa telinga gue nya yang agak-agak gimana ya?). Tapi bener kok, lab khan jendela nya tebel-tebel, kedap, jendela buat winter gitu gak tahu gue apa istilahnya, dan burem, klo ini mah karena kotor jarang dibersihin. Jadinya yg di dalam lab kadang gak tahu klo misalnya di luar lagi hujan. Pernah gue lihat temen lab masuk-masuk ke lab baju nya basah semua. Gue tanya kenapa. Dia bilang, "Lhah, di luar khan lagi hujan deres, emang gak tahu?".... Beuh... Dan gue emang bener-bener gak tahu dan gak nyadar.... Gubraakkk...

Dan setelah keluar pintu di lantai bawah, ternyata hujan yang lumayan deras menghadang di depan mata. Mau balik lagi ambil payung gak mungkin, soalnya lab udah gue kunci (pintu lab disini bisa dikunci tanpa bawa kunci, tapi gak bisa dibuka kalo gak bawa kunci, tapi lagi, gue pernah ngeliat pintu lab gue bisa dibuka tanpa kunci... dan gue jadi terheran-heran sama selembar benda berwarna ijo yg buat ngebuka waktu itu). Mau nunggu ujan reda kayaknya kagak mungkin, bisa sampai pagi gue nunggunya, kapan gue tidur kalo gitu. Akhirnya gue terobos aja hujannya sambil lari-lari kecil. Bukan gaya-gayaan ala film India, yang sengaja ujan-ujanan terus nyanyi sambil nari-nari.... Lama-lama ujan malah makin deres. (Jadi inget waktu kecil, gue suka maen ujan-ujanan). Rumah gue lumayan jauh jaraknya (in case, dalam hujan deras, sudah cukup membuat baju untuk bisa diperes). Dingin euy. Kelaperan juga, gue belum makan malem. Wuiihhh, akhirnya sampai juga di rumah. Aahhh, gak ada kunci, mesti bangunin orang rumah, gue kasian tapi mesti gimana lagi. Gue pencet bel rumah... ting tong... untung  si Eneng denger dan bukain pintu buat gue. Makasih Neng... Sorry, bangunin dari mimpinya...

"Ya ampun. Kehujanan. Gak bawa payung Dham?"

"Enggak Neng. Gak bawa kunci".... Mungkin dia agak bingung, hubungan gak bawa payung sama kunci. Kemudian dia balik tidur, tapi bangun lagi beberapa saat kemudian buat sholat tahajjud. 

Baju gue basah semua. Celana jeans gue basah kuyub. Untung, tas gue tahan air. Isinya henpon, hard disk, eksternal, Flashdisk-Flashdisk, dompet sama Al-Quran terjemahan yang gue bawa ke lab abis ngaji siang harinya. Langsung ganti baju dan makan malem (hampir jam 3 pagi mah bukan makan malem kali ya, sarapan kek nya...kkkk). Korea bikin hidup gue jadi gak normal, termasuk jam makan jadi gak normal juga.... 

Bentar lagi udah jam 4, gue ngaji aja habis sholat tahajjud sambil nunggu subuh. Beberapa waktu kemudian, terdengarlah adzan subuh (jangan bayangin, adzan subuh dari surau atau masjid.... disini mana ada). Tak lain adalah dari Azan Software di laptop gue. Gue langsung sholat subuh... Setelah itu, tiduuuurrrrr... zzzZZZzzz.... Gue udah ngantuk berat....

Bangun-bangun, gue ngerasa gak enak badan. Pasti gara-gara keujanan semalem. Ditambah dengan  ritual begadang sampai pagi yang selalu gue lakuin hampir tiap hari. Gue tahu sebenarnya daya tahan tubuh gue gak terlalu kuat. Dua malam sebelumnya gue pulang jam setengah 5. Rumah udah sepi, semua  orang udah pada ke kampus. Cuma tersisa gue. Di antara para penghuni rumah, emang gue doank yang jam hidup nya rada gak normal. Gue baru pulang dan tidur saat yang lainnya  udah hampir mau bangun. Dan gue masih tidur saat yang lainnya udah berangkat ke kampus.

Ya udah, akhirnya gue YM in si Eneng nyuruh ngasi tahu temen lab kalo gue lagi gak enak badan dan datang ke lab ntar abis makan siang. Henpon gue lagi gak ada pulsanya. Gue lemes banget dan agak demam. Seperti biasanya, si Eneng, dialah yang paling khawatir dan care banget kalo gue kenapa-napa. Padahal gue kadang cuek-cuek aja sama diri sendiri...

"Minum panadol dan minum susu. Bentar lagi khan puasa, jaga kesehatan dan gak boleh sakit" nasehatnya lagi. 

"Iya Bu Dokter", dalam hati gue. Ini calon master engineer apa calon dokter.

"Lain kali kalo kejebak hujan. Telpon aja. Ane bakalan datang dengan kuda putih."... Slebornya kumat.

Gimana mau telpon neng, henpon aja kagak ada pulsanya. Mana lagi mati pula.... huhuhuhu...

Bener juga sih yang dia bilang... Bentar lagi puasa... hari Rabu kalo gak ada perubahan jadwal. Terus hari Rabu itu juga kampus gue ada MT bareng-bareng semua lab member ke Memul Island selama 2 hari. Dan hari Kamis nya banyak yang ulang tahun (lhoh, apa hubungannya coba??)...

Kyaaaa.... gue masih pengen ketemu Ramadhan dengan segar bugar, apalagi di hari pertama. Gue masih pengen ikut summer vacation ke Memul Island, menikmati suasana laut dan pantai. Gue kangen banget sama laut.... hiks.. hiks...Gue masih pengen ngasi ucapan ulang tahun buat orang-orang yang akan berulang tahun...  Gue masih harus bikin poster presentation buat conference di Seoul minggu depan. Gue masih harus nyelesein paper gue yang deadline nya tinggal bentar lagi. Gua udah panik... Mulai stress....

Gue langsung terlintas pengen punya tangan kayak si siluman laba-laba di film Sun Go Kong. Bedanya ini buat ngetik di keyboard. Sekalian pengen nyulik orang yang otaknya jenius buat bantu gue mikir. Tapi siapa ya orang jenius dan pinter yang mau gue culik? Gggggrrrrrr.... ide bodoh tingkat tinggi!!!
Anyway, gue gak boleh sakit....(kalo bisa). Tapi sakit pun itu adalah nikmat bukan ya? Tapi... lagi... kalo gue sakit untuk sekarang-sekarang ini, bisa-bisa gue pulang kampung sambil bawa buntelan  isi  baju sama sepatu butut dong... huhuhu... Tidaaaaakkkkk.....

Jaga kesehatan... jaga kesehatan.... !!!

Jangan sampai sakit.... Jangan sampai sakit.... Jangan sampai sakit.... (katanya sugesti itu ampuh untuk melawan sakit).

Ya Allah, berilah hamba kesehatan, setidaknya untuk saat-saat ini...Amien....


Gyeongsan, Agustus 2010



Seoul Trip : (1) Gwanghwamun

After 6 months staying in Korea, finally we had chance and time to visit its capital city, Seoul. As it were, our housemate also had a conference in there at that time. We departed from Gyeongsan at Saturday afternoon by KTX, an express Korean train. In hurry preparing, because almost of us usually has lab meeting on Saturday, it was a hectic and hot summer day. We could buy family ticket because we were 4 people and we got cheaper one. It was around KRW 25.000 from normal price KRW 38.000. It took round 2 hours trip from Gyeongsan to Seoul. Gyeongsan is just a small city, KTX doesn't stop at here, so first we should go to Daegu Station by Semaul or Mugunghwa train then transfer in this station.

We arrived at Seoul Station at around 8.00 p.m. And then, by subway, we went to our small hotel near Hongik University. The night had not been so late, the sky was clear, so we decided to go to Gwanghwamun. In the next day, we visited some attraction places in Seoul by City Tour Bus that were Deoksugung Palace, National Museum of Korea, The Korean War Memorial Hall, N Seoul Tower and Insadong. Actually, the Seoul City Tour Bus passed more places than I mentioned, but it wasn't enough time to visit all of them. So, we just visited some place which are the main attraction and more interesting.

Inside KTX
Seoul Station, one of the corner
Seoul Station, one of the corner

1. Gwanghwamun

Its view was pretty nice at night. Gwanghwamun is the main and largest gate of Gyeongbuk Palace. It was a symbol and landmark of Seoul's long history built on Joseon Dynasty, so it has gone through multiple periods of destruction and disrepair. Actually I didn't know about its history at that time I visited it, I read about it from wikipedia thereafter. There are some monumental statues like Admiral Yi Sun Sin and King Sejong. Admiral Yi Sun Sin is a Korean naval commander famous for his victories againts Japanese navy during Japanese invasion to Korea. He is a gallant generals seen from his statue. 

There were many people in Gwanghwamun at that night, enjoying night view, taking some picture with their families, friends or couple. In front of Admiral Yi Sun Sin, there is a artificial fountain. It is so beautiful with colourful light flare in water splash, yelow, purple, blue, white and green. We know about this fountain for the second time visiting Gwanghwamun. Because at the first time visiting, the fountain didn't splash out  or maybe it already finished. I think the splashing is on certain time. Sejong the Great statue is also in Gwanghwamun area. He is the fourth king of Joseon Dinasty in Korea. During his regency, he acquired firm foundation of the state by reinforcing Confucius politics and executing major legal amendments. Furthermore, from the creation of Hangul and advancement of scientific technologies, he utilized the accumulated power to expand the territory.
 
Gwanghwamun at night. The girls appear are my friends.

 In front of Admiral Yi Sun Sin statue. Look at the gallant general standing behind me. It is him...

 Sejong the Great Statue

 Snail architecture

The Fountain at Gwanghwamun at the second visit :

The fountain. Love its colour.

We stopped by at Haechi Madang under Gwanghwamun Plaza on the way to water play. Haechi represents of Korea's mythical folktale character and one of the symbols of Seoul. Haechi, generally known as Haetae, is a lion-like horned creature that often appears in myths as a guardian against fire and disasters. It is just an imaginary creature. 

Me and Haechi

Souvenirs. They are look so cute.

Between them. Actually I don't know who they are.

Finally we found where the water play is. When we decided to go to Gwanghwamun, we already had known that there is a water play here. But after we were on there we didn't know its location exactly, so I asked to police officer who was on duty that night in Gwanghwamun. It was so amazing. Unfortunatelly, my camera isn't good enough for taking picture at night. So, the picture I got wasn't so good. It was blur. But, believe me, this place is more beautiful than that on the picture.
The artifial fountain.

Water play or cool stream

People are sitting down on the edge of river

 The view. Nice.

The water play or cool stream is like small river where a side walk beside along it. This place is so nice and romantic. Light, water stream, bridge, side walk... what a good composition. Imagining someday could walk with him at there. In this water play, there were so many people sitting on the edge of river, almost them were a couple. It started getting late night, we should come back to our room.