Pages

Showing posts with label Masakan Nostalgia keluarga Oei. Show all posts
Showing posts with label Masakan Nostalgia keluarga Oei. Show all posts

Kue K'ranjang Goreng

Kue K'ranjang Goreng


Ini adalah makanan klangenanku...

Dulu waktu anak anaknya masih kecil,walaupun kami tidak merayakan Sinchia secara "serius" Mamie selalu beli kue K'ranjang setiap dekat Sincia (tahun baru China). Ini  memang makanan khas Sincia, yang wajib ada dalam keluarga Tionghoa yang merayakan Imlek, melambangkan hidup yang manis penuh kelimpahan, lengket dan eratnya kekeluargaan.

Menurut dongeng Tiongkok kuno, di setiap rumah, ada seorang dewa yang bertugas menjaga tungku dalam keluarga. Dewa ini bernama Dewa Tungku. Dia ditugaskan oleh Raja Surga untuk mengawasi setiap keluarga dalam menyediakan makanan sehari hari. Nah, biar si Dewa Tungku ini memberikan laporan yang bagus bagus tentang keluarga yang diawasinya, maka dibuatlah kue K'ranjang untuk menyenangkan hatinya. Jadi kalo ibu ibu jarang masak, mending sering sering bikin kue K'ranjang, biar nggak digosipin oleh sang Dewa Tungku...hihih...boóng dinggg....

Diberi nama kue K'ranjang karena dicetak di dalam keranjang kecil kecil yang dialasi dengan plastik atau daun.

Kue K'ranjang yang dibeli Mamie biasanya berbungkus plastik atau daun pisang. Kue K'ranjang sering juga disebut dodol Cina. Dibuat dari tepung ketan, gula, pandan atau gula coklat. Aku lebih suka yang berbungkus daun, karena aroma daunnya membuat kue K'ranjang lebih wangi. Bayangkan saja, adonan kental dan panas langsung dituang ke atas daun pisang. Pasti lebih wangi daripada pakai plastik. Sayang sekarang agak susah cari kue K'ranjang yang bungkus daun di Surabaya. Bikin kue K'ranjang, menurutku cukup sulit. Aku pernah melihat sendiri Mamie temen SMAku, yang juga langganan kue K'ranjang Mamie dulu, keringatan mengaduk adonan di wajan super besar, dari cair sampai kental dengan susah payah. Ngaduknya pakai kayu panjang biar kuat dan nggak panas. Nggak heran harga kue K'ranjang juga nggak murah murah banget.

Nah, karena dulu Mamieku selalu beli kue K'ranjang dalam jumlah besar, tentu tidak sekaligus habis. Nah, kalau masih baru, kue K'ranjang masih empuk. Oleh Mamie diolah dengan sederhana saja. Kue kranjang dicuil kecil kecil, lalu dibalur parutan kelapa setengah tua yang sudah dicampur dengan garam dan dikukus. Lalu dimakan begitu saja.

Kalau sudah beberapa hari dan sudah mulai keras, digoreng dengan telur. Kalau sudah benar benar keras, dipotong potong, lalu diberi santan kental dan garam, dibungkusi daun pisang sedikit sedikit lalu dikukus sampai matang.

Di antara ketiga cara mengolah ini, favoritku adalah yang digoreng dengan telur. Karena rasa kue K'ranjang yang manis banget dipadu dengan telur yang gurih menjadikan rasa yang khas dan 'ngangeni.. :)


Kue K'ranjang Goreng


Bertahun tahun selama aku tinggal di Surabaya, Mamie masih rajin mengirim kue K'ranjang setiap dekat Sincia. Tapi sejak langganan kami di Semarang tidak lagi bisnis kue K'ranjang, akhirnya pengiriman dodol Cina ini berhenti. Sebagai gantinya di kantor, ada Nancy, teman yang rajin bagi bagi kue K'ranjang. Tidak seenak yang dari Semarang, tapi lumayan buat obat kangen.

Tahun ini aku beli sendiri kue K'ranjang. Nggak tau kenapa kok tiba tiba pengeeeen banget makan kue yang hanya muncul setahun sekali ini. Aku hanya beli 2 biji, rasa pandan dan rasa gula Jawa, itu juga harus order dulu. Dan aku menyesali kenapa hanya beli dua, soalnya sekarang masih pengen lagi :)


Kue K'ranjang Goreng



Cara menggoreng kue K'ranjang gampang banget. Kue yang sudah dipotong potong, dicelupkan dalam kocokan telur yang diberi garam dan sedikit vanili. Memang kue K'ranjang sudah wangi, tapi dengan tambahan vanili, amisnya telur nggak kecium sama sekali. Ngocok telurnya juga pakai garpu saja dan jangan terlalu niat sehingga telur tetap kental, jadi waktu digoreng tidak terlalu tipis. Goreng dengan api kecil saja sebentar lalu ditiriskan di atas kertas merang atau tissue dapur supaya minyak yang banyak banget berkurang. Karena lengket di plastik, pisau atau tangan, basahi dulu semuanya dengan air matang sedikit.


Kue K'ranjang Goreng



Beberapa malam yang lalu, waktu hujan deras aku sudah selesai makan malam dan sedang leyeh leyeh di ranjang, tiba tiba membayangkan nikmatnya makan kue K'ranjang hangat di cuaca dingin begini. Langsung aku bikin dan setelah matang, dengan bangga menawarkan kepada Pok dan Cinta, aku bilang 'Ayo cobain, ini enaaaak sekali, sukaan Mamie waktu kecil'. Dan,asal tahu saja, sodara sodari...mereka berdua tertarikpun tidak. Cinta masih mending, mau nyicipin dikit...tapi trus dilepeh, katanya 'Nggak enak'. Pok  hanya senyum sambil geleng geleng kepala tok, tanda menolak.

Masih belum puas pamer, aku share photo gorengan kueku ke BBM family Oei yang berisi kakak, adik dan keponakanku...dan sambutan yang aku dapatkan adalah "Nggak kepengen dan nggak suka !" Malah 2 keponakanku yang masih pada remaja nggak ngerti sama sekali nikmatnya makan kue K'ranjang goreng dan mengira photo yang aku share adalah empal dan pisang goreng... Oalaaaah....jangan jangan hanya aku, Mamie dan almarhum Papie yang dulu suka kue K'ranjang ya...hihih...

Waktu 2 kue K'ranjangku habis (aku makan sendiri) dalam 2 hari, masih pengen lagi. Lihat di Giant dan Sinar, adanya yang sudah keras...ndak enak yo...Akhirnya tadi aku pesen lagi ketemenku yang jualan kemarin...dan besok malam aku bakal makan itu lagi, tapi kali ini nggak bakalan nawarin dan pamerin ke siapa siapa daripada nelongso.... :D. 


Kue K'ranjang Goreng

So, Gong Xie Fat Choi, everybody...semoga tahun Kelinci ini membawa banyak berkah dalam kehidupan kita semua, baik yang suka maupun tidak suka makan kue K'ranjang, yang pinter masak ataupun yang enggak....biarlah semua mendapat rejeki, kesehatan, kasih sayang dan semua yang terbaik yang bisa diharapkan dalam dunia ini. Yang ingin punya anak, bisa mendapat banyak anak seperti kelinci.... whatever you wish come true lah...:D


Dadar Teri Nasi...

Dadar Teri Nasi



Di Semarang ada makanan yang terbuat dari  teri nasi yang dikepel bulat dengan diameter sekitar 3cm, trus ntar dibalur dengan kocokan telur dan digoreng dan disebut Benyik (atau at least keluargaku mengenalnya dengan nama ini). Mamie dan tanteku dulu suka masak ini. Biasanya beliau beli Benyik yang sudah jadi di pasar, ntar di rumah tinggal goreng dengan telur.Dan aku benci sekali kalau di rumah lagi masak benyik ini. Karena, biarpun rasanya gurih, tapi kalau habis makan itu, tenggorokanku pasti gatal..

Karena pengalaman makan Benyik penggatal ini, aku juga jadi benci pada segala masakan yang mengandung teri nasi. Kalau ada nasi goreng dicampur teri, biarpun semua orang bilang enak, aku nggak akan mau mencicipi. Masih terbayang gatalnya..

Sampai waktu aku menikah dengan si Anak Pantai :). Rupanya dia penggemar segala macam ikan termasuk olahannya. Teri, terutama teri nasi termasuk salah satu favoritnya. Kalau lihat teri segar pasti minta dimasakin, kadang minta dipepes. Waktu masih punya maid yang pinter masak, urusan teri aku serahkan kepada mereka. Mau dipepes, dicampur daun pepaya, dan lain lain mereka bisa. Nah, setelah sekarang maidnya cuma bisa beberes rumah, terpaksa aku sendiri yang ngolah binatang yang, walaupun sudah jadi almarhum masih suka melotot galak ini.

Tanya tanya ke Mamie, Mamie bilang di goreng pakai telur aja. Walah...jadi benyik, lak'an? Gak doyan !!!

Tapi kata my best-chef-ever ini, teri dadar beda dengan benyik, benyik nggak pakai teri nasi segar...dan inilah resepnya :


Bahan :

150gr Teri nasi cuci bersih lalu tiriskan



3 butir Bawang putih
1/2 sdt garam
1/2 sdt penyedap rasa


2 butir telur ayam

Cara membuat :

Haluskan bawang putih, garam dan penyedap rasa
Campurkan pada teri nasi, aduk rata
Kukus selama 10 menit
Buang airnya, ambil terinya saja
Kocok lepas telur, masukkan teri
Dadar sesendok demi sesendok sampai matang


Setelah matang, aku cobain...lho....ternyata nggak gatal !  Asli, wuenak...dan bikin nasi di rumah cepet habis... Nggak ngerti si Benyik itu mengandung apa kok bikin tenggorokanku tersiksa....mungkin waktu nyuci terinya nggak bersih ya.... Entahlah, yang penting, kalau kapan kapan aku ke Semarang, aku mau belikan Benyik buat suamiku dan pengen tahu reaksinya :)



Kering Tempe My Way... :)


Aku bukan penggemar tahu ataupun tempe....terutama kalau tempe cuma digoreng dengan sedikit garam..apalagi dicemplungin ke dalam sayur...uuuggghhh...gak banget...

Tapi kalau tempe dimasak kering begini, aku suka, tapi harus yang bener bener enak. Dan selama ini, menurutku, kering tempe yang paling enak adalah buatan Mamieku. Tempenya empuk (tempe Semarang memang tidak sepadat tempe Jawa Timur), bumbunya merasuk, dan legit. Biasanya Mamie masak kering tempe sebagai pendamping sayur lodeh.... Di beberapa pasar tradisionil di Semarang, kering tempe ini dibuat sebagai pendamping ketan (ketan diberi parutan kelapa dan kering tempe ini...rasanya cocok banget)

Yang aku perhatikan dari kering tempe buatan orang orang, kebanyakan tidak memakai santan, sedangkan kering tempe Mamie pakai, jadi tambah enak. Tapi  beda kering tempe beliau dan kering tempeku adalah...aku tidak pakai lengkuas dan daun salam. Karena dua bahan itu membuat masakan kerasa 'nJawani dan seperti yang pernah aku bilang, kalau makin sering dihangatkan, rasanya makin dominan. Eh, ada satu bahan yang Mamie pakai tapi aku nggak pakai, karena lagi nggak punya stock, yaitu udang kecil kupas.

Nah, tadi pagi aku sempat masak ini dan sekarang aku share resep kering tempe a la Keluarga Cinta. Buat cici,adik dan keponakanku, ingat  ya, kalau pengen persis masakan Mak Kiem, nggak pake tomat, tapi ditambah lengkuas gecek, daun salam, udang dan sedikit gula Jawa (secuil aja, asal ada, biar sedep kata Mak)...

Bahan :

2 papan tempe, potong kotak kecil
5 bawang merah,rajang tipis
4 bawang putih, rajang tipis
5 cabe rawit atau sesuai selera
2 cabe merah besar iris miring atau kotak kotak
1 tomat merah besar, potong potong
1 gelas air (kalau tempenya keras, pakai 2 gelas air)
50 ml santan kental siap pakai
4 sdm kecap manis (nggak pernah ketinggalan ! :D)
1 sdt garam

Cara membuat :

Goreng tempe setengah matang, sisihkan
Tumis bawang putih dan bawang merah sampai harum
Masukkan cabe dan tomat, tumis sampai layu
Masukkan tempe, aduk sebentar
Tambahkan kecap manis, aduk rata
Masukkan air, santan dan garam
Masak sampai mengering sambil diaduk aduk
Sajikan...



Note : cara menghangatkan bisa dikukus, atau pakai wajan langsung. Kalau pakai wajan langsung, harus ditambahkan sedikit air lagi supaya tidak gosong...

Oseng Kacang Bumbu Taoco



Yuk maem sayur lagi  yuk....

Ini masakan yang sering dibuat Mamie waktu kami masih kecil kecil. Dulu aku merasa terpaksa untuk memakannya, karena belum terlalu suka sayur. Tapi sekarang justru menikmati sedapnya....

Bahan :

3 ikat sedang kacang panjang,cuci bersih, potong kurleb 5cm
5 bawang putih keprak, cincang kasar
3 sdm taoco manis
1/2 sdt vetsin
1/2 - 1 sdt garam (sesuaikan dengan selera)
1 sdt gula pasir
sejumput merica
1/2 gelas air
Minyak goreng untuk menumis

Cara membuat :

tumis bawang putih sampai harum, tambahkan merica
masukkan taoco, aduk sebentar
tambahkan air dan semua bumbu bumbu biarkan mendidih
masukkan kacang panjang yang sudah dipotong potong
tumis sampai kacang agak layu
sajikan panas panas



Misua Kuah


Ini salah satu menu favorite keluarga Oei waktu kami masih kecil kecil. Mamie sering masak ini tapi ditambah dengan potongan gambas / oyong supaya kami, anak anaknya mau makan sayur.

Sekarang saya juga buatkan untuk Cinta & Bapaknya kalau lagi kehabisan ide masakan. Tapi karena tadi pagi nggak nemu tukang sayur, saya buat tanpa gambas :)

Ini resepnya :

Bahan :

2 siung bawang putih, keprak, cincang
sedikit merica bubuk
1 sdm kaldu bubuk / chicken powder
2 gulung misua
2 butir telur kocok lepas
500 - 750cc air

Cara membuat :

Tumis bawang putih dengan sedikit minyak / margarine
beri merica bubuk, masak sampai harum
(kalau pakai gambas, masukkan gambas yang sudah dipotong potong di sini, tumis sampai berubah warna)
tambahkan air, didihkan
masukkan kaldu bubuk, cicipi rasanya, kalau sudah enak
masukkan kocokan telur sambil agak diurai supaya menjadi seperti serabut
terakhir masukkan misua
segera disajikan dan nikmati, karena makin lama kuahnya akan terserap oleh misua.




Yang menyenangkan : Cinta dan Pok lahap sekali kalau makan dengan lauk ini. Yang kurang menyenangkan : hari ini cara upload photo di blogspot ganti lagi.  Ngapain photo photo lama yang sudah ada di blog dimuat lagi...bikin lama dan nggak praktis. :(

Cerita di balik bihun goreng



Sejak kecil aku suka sekali makan bihun goreng. Semua jenis bihun goreng baik itu yang model Jawa - pakai merica utuh diulek dengan bawang, atau Chinese - yang bawangnya dikeprek...semua aku suka. Bahkan kalau makan mie titee, aku juga pakai bihun, pokoknya kalau ada kesempatan untuk memilih antara mie dan bihun, aku pasti pilih bihun.

Sejauh ingatanku, aku mulai suka makan bihun waktu TK Trisula Candi Semarang. Waktu itu setiap hari Sabtu adalah hari makan bersama, dan yang paling aku tunggu tunggu adalah makan bihun goreng bersama.FYI, yang paling aku benci, makan bubur kacang hijau bersama. Hoaaaaa....sampai seumur ini aku masih nggak suka kacang hijau, karena rasanya seret di tenggorokan :).

Guruku di TK itu bernama bu Tatik (Lord, bless her soul forever). Beliau memasak bihun sepanci blirik besar. Semua murid dan pengantarnya boleh makan sepuasnya. Makannya juga pakai piring seng blirik, karena waktu itu belum ada piring melamin.

TKnya sederhana banget, lantainya plesteran (semen) bukan ubin, dindingnya setengah tembok setengah papan. Muridnya dari semua golongan. Anak orang kaya, anak orang biasa, bahkan anak orang tak punya juga sekolah di situ. Ada yang sekolah tanpa memakai sepatu atau sendal, alias nyeker karena memang orang tuanya tidak bisa membeli sepatu. Tidak ada seragam yang mungkin akan membebani mereka yang tak mampu sehingga tidak mau sekolah. Ada anak yang setengah idiot, ada yang nakal banget, ada yang suka nangis, suka ngambek (baca : aku :D).... Bu Tatik tidak pernah membedakan kami berdasarkan status dan golongan, semua sama, semua diperlakukan dengan baik.

Waktu aku kecil, aku adalah anak yang introvert dan clumsy. Nyanyi fals, nari kaku. Tapi kalau (lagi mau) bicara bisa lantang. Bu Tatik tahu itu, dan beliau memberi aku kesempatan tampil di RRI Semarang untuk membaca puisi secara live. Waktu aku keluar sebagai juara ke III, beliau mengantarkan sendiri hadiahnya ke rumah, 1 buku tulis tipis merk Banteng, pensil dan rautan. Untuk anak TK pada masa itu, hadiah ini sudah luar biasa. Dan aku ingat, sejak saat itu rasa percaya diriku tumbuh.

Seandainya bu Tatik masih hidup, ingin aku datang, memeluk dan menciumnya. Beliau yang meletakkan dasar di hati dan pikiranku, bahwa semua manusia itu sama di mata Tuhan di usia yang sangat dini. Dan bahwa kita tidak perlu bisa menari atau menyanyi untuk bisa percaya diri.

Di SD, kantin di sekolah menyediakan bihun goreng yang dibungkus dengan daun pisang. Kalau ditakar, mungkin bihun gorengnya hanya 1 sdm munjung, sayurnya hanya kol, sedikit taburan telur dadar iris, sejumput bawang goreng yang melempem,  tapi cabe rawitnya gedha banget. Harganya Rp 5,-. Waktu aku SMP (masih sekompleks dengan SDku) harga bihun berubah jadi Rp 10,- lama lama naik jadi Rp 25,-, tapi porsinya teteup. Yang masak masih orang yang sama, jadi rasanya juga sama dengan bihun di kantin SD. Dua kali istirahat, dua kali aku beli dan makan bihun :). Saking hapalnya kebiasaanku ini, pak Nyaman (penjaga kantin SMPku) selalu menyisihkan bihun goreng khusus untukku, karena kalau kehabisan aku marah :D.  Kalau libur panjang, yang aku kangenin bukan teman teman sekelas tapi bihun gorengnya kantin sekolah.

Bihun bu Tatik dan bihun sekolah menggunakan resep bihun goreng Jawa yang rasa mericanya menggigit nikmat.

Waktu aku  masih tinggal bersama Mamie di Semarang, beliau sering memasakkan bihun goreng atas permintaanku. Menurutku bihun goreng beliau enak sekali, padahal bumbunya ya sederhana saja...bawang putih keprek, merica dan kecap kecapan biasa. Sampai sekarang kalau lagi pulang kampung aku masih sering minta beliau memasakkan bihun goreng.

Akhir akhir ini bihun yang dipakai orang jualan adalah bihun yang terbuat dari tepung jagung. Bentuknya lebih kenyal mirip soun, warnanya bening. Tidak ada baunya. Beda dengan bihun jaman dulu yang terbuat dari tepung beras. Bentuknya rapuh, warnanya butek dan baunya agak apek apek gimana gitu tapi teteeeeep buatku lebih enak..hehehe...bihun (jadul) forever dah pokoke.


Nah,karena kangen makan bihun goreng dan nggak nemu bihun jadul akhirnya aku memutuskan untuk masak sendiri. Nyari bihun beras di Giant, nemu yang merknya AAA. Inget inget bumbu yang Mamie pakai...kira kira begini resepnya :

Bahan :

1 bungkus bihun (200 gr)
5 bawang putih dikeprek & cincang
3 helai seledri, biarkan utuh
5 sdm kecap manis
4 sdm kecap asin
1 sdt gula pasir
1 sdt kaldu bubuk
1/2 sdt vetsin
1/3 sdt merica
2 butir telur kocok lepas
Sayur sesuai selera (aku pakai wortel yang potong seperti korek api)
Ayam rebus disuwir suwir
Udang kecil kupas (kalau punya, tapi aku kemarin nggak punya :D)
Bakso (kalau ada dan suka)
1 gelas air kaldu
Minyak untuk menumis

Cara membuat :

  • Rendam bihun dengan air mendidih selama 2 menit, sampai bihun lemas
  • Tiriskan, siram dengan air dingin supaya bihun tidak saling melekat, sisihkan
  • Panaskan minyak, dadar telur setengah matang kemudian dihancurkan (scrambled egg). Angkat dan sisihkan
  • Tumis bawang putih dan merica sampai wangi
  • Masukkan ayam/udang/bakso tumis sampai berubah warna
  • Tambahkan air, kecap dan bumbu bumbu lainnya
  • Masak sampai mendidih.
  • Tambahkan sayur (termasuk seledri). Masak sampai sayur layu.
  • Terakhir masukkan bihun. Aduk pelahan lahan sampai semua bumbu rata
  • Cicipi rasanya. Biarkan air terserap habis.
  • Sajikan dengan taburan scrambled egg dan bawang goreng.


Rasa bihun ini enak...tapi buatku masih jauh lebih enak bihun masakan Mamie, nothing compares to hers deh....:)

Gule Kambing a la Mak Kiem

Walaupun nggak ada photonya, karena dulu kalau masak gule ini nggak pernah diphoto, tapi resep ini sudah teruji kelezatannya...silakan dicopy dan dicoba. Kalau aku masak, selalu dalam porsi besar, karena kalau sudah bosan sama gulenya, aku masak tongseng. Resep tongsengnya nyusul ya..



Kambingnya nggak bisa di substitute dengan bahan lain seperti ayam atau daging sapi, karena nanti kehilangan 'bau' sedapnya.



Resep gule kambing a la Mak Kiem :



Bahan :



1 kg Daging kambing & jerohan kambing



Bumbu yang dihaluskan :



10 Bawang merah

6 Bawang putih

1 sdt Ketumbar

1 sdt Jintan

8 Kemiri

2 cm Kunir

½ sdt Merica bulat

50 gr Serundeng kelapa siap pakai dihaluskan



Bumbu lain yang tidak perlu dihaluskan :



1 potong Kayu manis

3cm Jahe memarkan

3 lb Daun jeruk purut

1 tangkai Daun koro keeling (salam koja)

5 Cengkeh

4 Daun Salam

3cm Lengkuas dimemarkan

Garam secukupnya

Vetsin (kalau suka)

Gula pasir sedikit



Lain lain :




Brambang goreng untuk taburan

Jeruk nipis

Cabe rawit gerus

Kecap manis (kalau suka)



Cara memasak :



Cuci bersih daging dan jerohan kambing. Rebus sampai setengah empuk, buang airnya. Rebus sekali lagi, potong potong sesuai selera. Sisihkan airnya untuk kaldu

Tumis bumbu halus, jahe, daun jeruk, daun salam dan lengkuas sambai harum.

Masukkan daging dan jerohan kambing, beri kaldunya.

Tambahkan kayu manis, cengkeh, gula, garam, dan sedikit vetsin. Masak sampai enak dan daging empuk.

Masukkan santan kental, didihkan

Sajikan dengan gerusan cabe rawit dan kucuran jeruk nipis dan ditaburi brambang goreng.



Kare ayam a la Mak Kiem

Kare ayam yang ini memang beda dengan kare yang banyak dikenal orang. Kare ayam versi Mamieku ini warnanya kuning cantik dan tidak pedas, karena dimasak untuk cucu dan anak anak beliau waktu masih kecil. Kalau mau pedas, makan dengan sambal terasi.

Bahan :

1 kg Ayam dipotong kecil kecil
½ kg Wortel (potong besar besar)
½ kg Kentang (potong besar besar)
½ Kubis potong sesuai selera

Bumbu halus :

8 bt Bawang merah
6 bt Bawang putih
1 sdt Ketumbar
½ sdt Jintan
6 bt Kemiri
2 sdm Kunir
3 lb Daun salam
3 gls Santan cair
1 gls Santan kental

Bumbu yang tidak perlu dihaluskan :

Garam
Gula pasir sedikit (kalau suka)
Lengkuas dimemarkan
Sereh ambil bagian putihnya dan dimemarkan

Cara membuat :

Tumis bumbu halus, bumbu daun , lengkuas dan sereh sampai wangi
Masukkan ayam, masak sampai ayam berubah warna
Masukkan santan cair, garam, gula pasir sedikit
Kalau rasanya sudah enak, masukkan sayur sayuran, masak sampai semua meresap
Terakhir masukkan santan kental, masak sampai matang.
Sajikan dengan nasi putih dan sambal terasi kalau mau pedas.

Resep Sup Hisit ala Mak Kiem

Hisit adalah sirip ikan hiu. Kalau di Semarang, sup Hisit yang kental dan berwarna kecoklatan ini sering hadir di pesta pesta orang Tionghoa kalangan atas, mengingat harga hisit tidak murah. Kalau susah atau tidak mau pakai hisit, skip saja. Tidak mau pakai pork? Bisa hanya pakai ayam saja.
Rasanya..jangan tanya..enaaaaaaaak banget, apalagi dimakan panas panas pada saat tubuh sedang kurang sehat. Ditambahin potongan cabe rawit dan arak china yang dicampur sedikit kecap asin.
Resep ini aku dedikasikan untuk Cicikku, Renny, semoga bisa praktek sendiri, tidak perlu nunggu pulang kampung dan beli di pasar Gang Baru lagi kalau lagi ngidam sup hisit :)


Bahan :

1 ons hisit basah cuci bersih
¼ kg daging babi / dada ayam rebus sampai empuk, iris tipis
1 ons jamur kuping , rendam air sampai mekar,cuci, potong tipis
1 ons jamur shitake, rendam air panas, cuci, potong tipis
1 ons rebung direbus, dipotong korek api
¾ lt kaldu

Bumbu :
2 bawang putih goreng utuh, haluskan
2 sdt Garam
1 sdm Gula pasir
2 block Chicken powder (kaldu ayam)
1 sdt Vetsin
3 sdm Mushroom soy
4 sdm Saus tiram
2 sdt Minyak wijen
2 sdm Arak china (Angciu)
2 sdm maizena, cairkan dengan 3 sdm air matang

Cara membuat :

Panaskan wajan, beri minyak goreng, masukkan arak china dan kaldu cair biarkan sampai mendidih dan wangi
Masukkan semua bumbu sampai rasanya enak
Masukkan bahan bahan lain, masak sampai lunak.
Kentalkan dengan maizena yang telah dicairkan dengan sedikit air matang
Tetesi minyak wijen sebelum disajikan

Untuk 6 orang

LODEH TEWEL (SAYUR NANGKA MUDA)


Resep sederhana yang sering dimasak Mamie saya sejak saya kecil. Bumbunya tidak digongso pakai minyak, tapi direbus, jadi agak agak mengurangi kadar kholesterol, yang sudah dipenuhi oleh santannya :D. Kalau Mamie saya masak, dicampurin daging sapi tetelan, kalau saya yang masak, saya campurin cakar ayam. Tapi yang kemarin masak, murni sayur nggak ada unsur hewaninya. Kalau suka kacang panjang, boleh dicampurkan juga.

Bahan:

¾ kg nangka muda dipotong2 sesuai bentuknya
½ butir kubis potong sesuai selera
3 gelas santan cair
2 cm lengkuas dimemarkan
3 lbr daun salam
3 cabe hijau besar potong miring
15 cabe rawit merah biarkan utuh
2 bt sereh, ambil batangnya, memarkan

Bumbu yang dihaluskan:

6 bawang merah
3 bawang putih
4 kemiri goreng
1 sdt ketumbar
1 cm kunir
3 cabe merah besar buang bijinya
1 sdm garam
sedikit gula jawa (kalau suka agak manis)

Cara membuat:

Rebus nangka muda sampai empuk, buang airnya

Didihkan 2 gelas air, masukkan bumbu halus, lengkuas, sereh, daun salam, garam, , cabe rawit, cabe hijau, gula jawa, cicipi rasanya, kalau sudah enak masukan santan, nangka, dan kubis masak sambil diaduk sampai bumbu meresap dan santan tidak pecah.



Notes :
* kalau untuk anak anak, cabenya bisa dihilangkan, jangan kuatir, juga masih enak kok..
* boleh pakai gula pasir juga, tapi kalau pakai gula jawa, warna sayurnya akan lebih cantik

Setup Bligo





Anda tahu bligo? Bligo adalah buah tanaman semak sekeluarga dengan labu-labuan, bentuknya bulat lonjong besar seperti semangka, kulitnya hijau polos dan keras, bergradasi antara hijau tua dan hijau muda dan ber'bedak'.


Di kampung biasanya bligo tidak ada harganya, tidak laku dijual dan orang jarang memakannya, karena rasanya memang tanggung, nggak seperti jipang (labu siam) yang lembut kalau dimasak.


Tapi buat aku, bligo ini punya kenangan tersendiri. Waktu aku kecil, Mamie sering bikin setup bligo dan selain Mamie sendiri, dari ketujuh anaknya, hanya 2 anak saja yang suka, yaitu almarhum koh Bambang - kakakku yang paling besar - dan aku. Meski demikian, Mamie cukup sering membuat setup bligo.


Hingga sekarang, aku masih ingat segarnya setup bligo dingin, tapi mau buat sendiri kok ya awang awangen. Secara bligo di pasar harganya terlalu mahal, nggak worth it. Malah aku sempat kepikiran mau nanem sendiri, habis nanamnya gampang banget, tinggal sebar benih, sudah tumbuh, kalau sudah berbuahpun menyenangkan sekali, pohonnya menjalar kecil tapi buahnya besar besar :D

Sampai minggu lalu, waktu ke pasar aku dapat bligo, nggak terlalu besar dan harganya hanya Rp 5,000 per biji, langsung aku beli. Sampai rumah diketawain sama mbak Sus, katanya 'ini kalau didesa, orang dikasih aja nggak mau, kok ibu mau maunya beli'...hihih...biar aja..namanya juga kangen masa kecil.


Cara bikin setupnya gampang aja sih, ini resepnya kalau pengen coba :


1 buah bligo, kupas tebal, potong sesuai selera

1/2 sdm kapur sirih, cairkan, ambil airnya

1/2 kg gula pasir

1 liter air

3 potong kayu manis


Cara membuat :


Kupas tebal bligo, buang bijinya, potong sesuai selera

Rendam bligo dalam air banyak dan air kapur sirih selama 4 jam atau lebih, makin lama direndam makin kenyal

Cuci bersih

Rebus 1 liter air, masukkan gula pasir dan kayu manis, didihkan

Masukkan bligo, masak sampai bligo berwarna bening

Setelah dingin, simpan dikulkas


Adat di beberapa desa di Jawa Timur, kalau ada pesta pernikahan , bligo ini dibuat manisan, caranya sama dengan membuat setup, tapi potongnya kecil kecil dan diberi pewarna makanan - biasanya warna hijau, airnya sedikit, gulanya dibanyakin, dimasak sampai air habis . Disajikan bersama camilan lain.



Sate Babi

Ini juga masakan warisan Mak Kiem....rasanya manis manis gurih, sedap banget..

Bahan:

Daging babi 'Kasim' muda yang empuk

Bumbu :

Brambang
Bawang
Ketumbar
Garam
Vestin

Cara :

Haluskan bumbu.
Potong daging dan rendam di dalam bumbu, simpan dalam lemari es, kalau mau makan baru dibakar dengan arang (pakai anglo)
Disajikan dengan kecap manis dan potongan cabe rawit digerus kasar.

GUDEG

Masakan masa kecil andalan mak Kiem, masak dengan arang (anglo)...masaknya luamaaaaaaaaaaa banget, tapi worth waiting...enak banget !

Bahan :
Nangka muda
Ayam / tetelan direbus sampai empuk
Telor
Santan
Daun singkong
Daun jati muda

Bumbu :
Tumbar
Jinten
Bawang ( yang banyak)
Brambang ( sedikit)
Kemiri
Salam
Laos
Tempe bosok

Semua bahan bumbu dihaluskan, dicampur dengan santan.
Nangka muda yang sudah disuwiri, ditata dipanci, diberi daun pohong yang sudah direbus dan diperas. Beri ayam ( tua), telor, tetelan.
Santan dan bumbu diudek terus dimasukkan dalam panci ditutup rapat.
Setelah mendidih, dicicipi kalau sudah enak terus ditutup, jangan dibuka buka biar bisa merah. Api kecil saja ( areng) kalau mau mati ditambah lagi, terus sampai 1/2 hari.
Kalau mau diberi daun jati yang muda ( dicuci dulu yang bersih dan ditaruh ditengah tengah).

SOSIS BABI

Favorite keluarga Oei May Pong, sampai ke cucu cucu....sayangnya sampai sekarang anak anaknya belum ada yang bisa masak se-enak mak Kiem ! Tangan ternyata berpengaruh, ya Ren...:(



9 ons babi kasim
1 pala diparut
8 bh bawang gelondong digoreng
2 siung bawang mentah diparut
100 gr brambang goreng
1 kaleng hamworst merk 'magling' atau 'maling'
3 sdt merica
14 sdt gula pasir
12 sdt vetsin
1 sdm saus inggris
kecap manis

2 ½ m usus babi bisa dibuat menjadi 20 buah sosis besar/kecil

Cara:
Semua bahan diuleni.
Siapkan usus, rendam dengan air, cuci sampai bersih dan dibalik.
Isikan campuran daging kedalam usus, ikat dengan benang kasur setiap 15cm.
setelah selesai, coblos ronga ronga dengan jarum supaya tidak pecah waktu dimasak.

Untuk kuahnya :
bawang putih digecek, digongso diberi kecap asin, air dan kecap manis.
Setelah rasanya pas, masukkan sosis, masak sampai matang.
Bisa ditambah telur rebus.

DADAR GULUNG KUAH

Daging babi dicacah
Ayam dicacah
Udang dicacah
Diberi bawang goreng ( digoreng wungkul dan diulek)
Merica
Gula
Moto

Semua bahan diuleni. Coba dengan goreng sedikit. Telor dikocok, didadar, digulung. Di kukus sampai matang.

KUAH

Bawang digecek
Merica
Royco
Moto
Garem
Tulang ayam/babi

Tumis bawang, beri sedikit merica, sampai wangi, masukkan tulang2, air dan bumbu bumbu lain sampai sedap. Masukkan sayur pelengkap, rebus sampai matang.

SAYURAN PELENGKAP:
Caysim
Bloemkool
Wortel

Penyajian :

Potong potong dadar gulung, tuangi kuah panas dan sayuran pelengkap, beri brambang goreng.

AYAM GORENG TEPUNG MAK KIEM

Resep andalan Mak Kiem untuk dinikmati keluarga ataupun untuk sajian waktu ada Bidston di rumah, biasanya dilengkapi gudangan (urap sayur) dan lalapan...hmmm...kangen, Mak...

Bahan :

Ayam dipotong sesuai selera
Terigu
Telor

Bumbu :

Brambang
Bawang
Tumbar
Jinten
Kemiri
Kunir

Cara :

Semua bumbu dihaluskan, beri vetsin sedikit. Oleskan pada ayam yang dipotong dan digores, diamkan > 1 jam. Sisa bumbu untuk mencairkan terigu, tambahkan air sedikit dan telor. Jangan terlalu cair. Goreng, sajikan dengan sambal matang


SAMBEL MATANG

Lombok
Brambang
Bawang
Tomat

Semua bahan digoreng dan diulek. Diberi gula dan sedikit vetsin

EMPAL KELEM

Bahan :
Kisi kembang yang muda direbus
(1.) Tumbar
(2.) Jinten
(3.) Brambang
(4.) Bawang
(5.) Kemiri
Asem ( sedikit)
Gula jawa
Salam
Laos

Cara :
(1) - (5) diulek halus, digongso sampai harum, masukkan daging dan digongso. Sisa kaldu untuk merasi kelapa.
Masukkan santen cair, agak kental
dan terakhir kental. Tunggu sampai agak asat / nyemek nyemek.
Bisa di goreng menjadi empal goreng.. :)

AYAM KUNING


Bahan :

1 kg ayam kampung, potong sesuai selera
Terong potong sesuai selera tanpa dikupas
Buncis, potong sesuai selera
Santan cair
Santan Kental

Bumbu :

Brambang
Bawang
Lombok
Kemiri
Kunir
Sere digecak
Daun Salam
Laos

Semua bahan diulek halus ( kecuali sere) dan digongso sampai harum.
Beri santen cair sedikit diaduk.
Ayam dimasukkan diaduk lagi kemudian diberi santan cair, setelah itu masukkan santan kental, gula jawa dan garam
Kalau ayam sudah empuk diberi buncis dan terong.

Pindang Bandeng Kecap

Masakan warisan Ibu saya ini sangat sedap, gampang dan cepat menyiapkannya

Bahan :

1 kg Bandeng ukuran besar disiangi, potong2 sesuai selera
(tapi jangan terlalu kecil)
1/2 kg Udang besar tidak perlu dikupas
2 potong tahu ukuran sedang
2 potong tempe ukuran sedang
10 bawang merah dirajang halus
10 bawang putih dirajang halus
20 buah Cabe rawit
3 lembar daun Salam
3 cm Laos
10 sdm Kecap manis
10 Belimbing Wuluh dipotong potong kecil
(kalau tidak ada bisa pakai tomat atau asem sekepel, tapi harus dibakar dulu)
vetsin (kalau suka)
Garam secukupnya
Gula pasir sedikit

Cara :

Semua bahan (kecuali udang) dimasukkan kedalam panci, beri air, rebus sampai matang dan bumbu meresap.

Masukkan udang, masak lagi sebentar.
Siap dihidangkan
* jangan terlalu sering diaduk supaya bandeng tidak hancur.

Mie Titie

Mie ini sangat populer di Semarang...biasanya memakai babi tapi bisa juga diganti dengan daging sapi. Rasanya manis, gurih dan bikin ketagihan...

Bahan :

500 gr mie matang (siap beli) cuci sebentar dengan air panas
300 gr kasim / daging babi bisa diganti dengan daging sapi ( direbus dulu dengan air banyak untuk kuahnya, lalu dipotong kecil sesuai selera)
250 gr Ayam ( dilepas dari tulangnya, di potong kecil-kecil, tulangnya direbus untuk kaldu)
250 gr udang kupas
2 ikat bayam disiangi direbus sebentar
250 gr taoge disiangi direbus sebentar
6 butir bawang putih dicincang
brambang goreng untuk taburan
kecap manis
merica
vetsin (kalau suka)
gula pasir secukupnya
garam secukupnya

Bumbu coklat :

Bawang cincang, lalu digongso
beri merica
kalau sudah harum masukkan udang, babi, ayam, udang
beri kecap, moto, gula pasir, garam dan air sedikit ( kaldu)
kalau sudah enak dan merasuk di angkat

Kuah :

bawang putih cincang di tumis dengan sedikit minyak, beri merica
masukkan ke kuahnya
beri vetsin kalau suka, garam, dan gula sedikit

Menyajikan :

Mie, bayam, taoge, daging, brambang goreng
siram dengan kuah, siap untuk disantap dengan tambahan sedikit cuka (kalau suka) dan sambal cabe rawit

Untuk sambal :
Rebus cabe, gerus kasar